Biografi Tentang Yaśodharā Yang Begitu Cantik

Biografi Tentang Yaśodharā Yang Begitu Cantik – Yaśodharā (Pali: Yasodharā) merupakan istri Pangeran Siddhartha—sampai ia meninggalkan rumahnya buat jadi ramaṇa—ibu Rāhula, serta kerabat wanita Devadatta. Ia setelah itu jadi seseorang suster Buddha serta dikira selaku arahatā. (ataupun Nyonya Arahat). – kagyu-asia.com

Biografi Tentang Yaśodharā Yang Begitu Cantik

Kehidupan

Yaśodharā merupakan gadis Raja Suppabuddha, serta Amita, kerabat wanita papa Buddha, Raja uddhodana. Ia lahir pada hari yang serupa di bulan” Vaishaka” selaku pangeran Siddhartha. Kakeknya merupakan Añjana seseorang kepala Koliya, bapaknya merupakan Suppabuddha serta ibunya, Amitā, berawal dari keluarga Shakya.

Shakya serta Koliya merupakan agen dari dicca (Sansekerta: Aditya) ataupun bangsa Ikshvaku. Tidak terdapat keluarga lain yang dikira sebanding dengan mereka di area itu serta oleh sebab itu badan dari kedua keluarga kerajaan ini cuma menikah di antara mereka sendiri.

Baca Juga : Mengenal Tentang Agama Buddha Gautama lebih Jauh

Ia menikah dengan salah satu sepupunya, Yaitu pangeran Shakya Siddhartha, kala mereka berdua berumur 16 tahun. Yang Pada Saat itu berumur 29 tahun, ia melahirkan Seorang anak tunggal mereka, seseorang anak pria bernama Rāhula. Pada malam ke- 7 kelahirannya, si pangeran meninggalkan kastel.

Yaśodharā sirna serta diliputi kesedihan. Sesuatu kala pangeran Siddhartha ini akan meninggalkan rumahnya dihari pada malam hari buat pencerahan, dengan persetujuan Yaśodharā namun tanpa berikan ketahui orang lain; keesokan harinya, seluruh orang diguncang oleh ketidakhadiran si pangeran. Setelah itu, kala ia mengenali kalau ia sudah berangkat, Yaśodharā

menyudahi buat mulai menempuh hidup simpel. Walaupun saudara mengirim catatan buat berkata kalau mereka hendak mempertahankannya, ia tidak menyambut ajuan itu. Sebagian pangeran mencari tangannya namun ia menyangkal ide itu. Sepanjang 6 tahun ketidakhadirannya, Gadis Yaśodharā menjajaki informasi mengenai tindakannya dengan teliti.

Kala Si Buddha mendatangi Kapilavastu sehabis pencerahan, Yaśodharā tidak berangkat menemui mantan suaminya namun memohon Rāhula buat berangkat menemui Si Buddha buat mencari peninggalan.

Buat dirinya sendiri, ia berasumsi:” Pastinya bila aku sudah mendapatkan kebajikan apa juga, Tuhan hendak tiba ke hadapan aku.” Buat penuhi ambisinya, Buddha tiba ke hadapannya serta memuja- muja ketabahan serta pengorbanannya.

Sebagian durasi sehabis putranya Rāhula jadi bhikkhu pendatang baru, Yaśodharā pula merambah Sangha Bhikkhu serta Bhiksuni serta dalam durasi khusus menggapai kondisi arhat.

Ia ditahbiskan selaku bhikkhuni dengan 5 dupa perempuan menjajaki Mahapajapati Gotami yang awal kali mendirikan bengkel seni bhikkhuni. Ia tewas pada umur 78, 2 tahun saat sebelum parinirvana( kematian) Buddha.

Legenda

Dalam bahasa Mandarin:, Sutra Beramai- ramai Cerita Para Buddha di Era Kemudian, Yashodharā berjumpa Siddhārtha Gautama buat awal kalinya dalam kehidupan tadinya, kala selaku Brahmana belia( pendeta India kuno) Sumedha,

beliau dengan cara sah diidentifikasi selaku Buddha era depan oleh Buddha pada era itu, Buddha Dīpankara. Menunggu Buddha Dīpankara di kota Paduma, ia berupaya membeli bunga selaku persembahan namun lekas mengenali kalau raja sudah membeli seluruh bunga buat persembahannya sendiri.

Tetapi, dikala Dipankara mendekat, Sumedha memandang seseorang wanita bernama Sumithra( ataupun Bhadra) menggenggam 7 bunga lotus di tangannya. Ia berdialog kepadanya dengan arti buat membeli salah satu bunganya,

namun ia lekas mengidentifikasi potensinya serta menawarkan 5 lotus bila ia berkomitmen kalau mereka hendak jadi suami serta istri di seluruh kehidupan mereka selanjutnya. Dalam ayat ketiga simpati Sutra Lotus, Yaśodharā menyambut khianat kebuddhaan era depan dari Buddha Gautama semacam perihalnya Mahapajapati.

Nama

Maksud julukan Yaśodhara( Sansekerta)[dari yaśas” fadilat, gebyar”+ dhara” bantalan” dari pangkal tutur kegiatan dhri” buat menanggung, mensupport”] merupakan Pembawa fadilat.

Nama- nama ia dipanggil tidak hanya Yaśodharā merupakan: Yaśodharā Theri( doyenne Yaśodharā), Bimbādev, Bhaddakaccānā serta Rāhulamātā( bunda dari Rahula). Dalam Kanon Pali, julukan Yaśodharā tidak ditemui; terdapat 2 rujukan mengenai Bhaddakaccānā.

Sebagian julukan lain diidentifikasi selaku istri Buddha dalam adat- istiadat Buddhis yang berlainan, tercantum Gopā ataupun Gop, Mṛgajā, serta Manodharā; bagi Vinaya Mulasarvastivada serta sebagian pangkal yang lain, Si Buddha sesungguhnya mempunyai 3 istri, serta suatu narasi Jataka yang diambil oleh Nagarjuna mengatakan 2 istri.

Thomas Rhys Davids menawarkan pemahaman kalau Si Buddha mempunyai seseorang istri tunggal yang mendapatkan bermacam titel serta julukan sepanjang bertahun- tahun, yang kesimpulannya membidik pada invensi narasi asal buat banyak istri.

Noel Batari merupakan ahli awal yang mangulas permasalahan ini dengan cara jauh luas, mengecek sumber- sumber Tiongkok serta Tibet dan Pali. Ia mencermati kalau sumber- sumber dini( diterjemahkan saat sebelum era ke- 5) kelihatannya dengan cara tidak berubah- ubah mengenali istri Buddha selaku Gopī, serta kalau sehabis rentang waktu inkonsistensi Yaśodhara timbul selaku julukan yang digemari buat teks- teks yang diterjemahkan pada catok kedua era ke- 5.

serta setelah itu. Tidak hanya filosofi Rhys David, beliau menganjurkan pemahaman lain yang melingkupi mungkin perkawinan dobel, yang dalam sebagian permasalahan lebih cocok dengan alterasi yang berlainan dalam narasi kehidupan Buddha, membuktikan kalau ketidakkonsistenan ini timbul kala sebagian narasi yang berlainan digabungkan jadi satu.

deskripsi. Ia pula menganjurkan kalau preferensi dalam pemahaman berikutnya buat seseorang istri tunggal bisa jadi memantulkan fasilitas pergantian adat- istiadat sosial yang lebih memilah monogami dari bentuk- bentuk perkawinan konvensional yang lain.

Kecantikan Gadis Yasodhara

Di antara empat- puluh ribu( 40. 000) Gadis Sakya, yang sangat terkenal merupakan Gadis Yasodhara yang mempunyai julukan wanita Bhaddakaccana. Yasodhara Bidadari, semacam sudah dipaparkan tadinya, merupakan salah satu ajudan kelahiran Boddhisatta.

Beliau terlahir dari salah satu raja Sakya bernama Suppabuddha, putra dari eyang Boddhisatta, Raja Anjana dari kerajaan Devadaha, Bunda Gadis Yasodhara merupakan Gadis Amitta, yang merupakan kerabat wanita Raja Suddhodana.

Gadis diberi julukan Yasodhara sebab mempunyai nama baik bagus serta pengikut yang banyak (Yaso= banyak pengikut serta ber- reputasi bagus; dhara= pembawa; demikianlah gadis merupakan beliau yang mempunyai banyak pengikut serta ber- reputasi bagus).

Baca Juga : Arti dari apa itu Agama Buddha

Beliau menawan serta berkulit kencana bagaikan arca yang disampul dengan kencana asli ataupun seakan daging serta tubunya dibuat dari kencana asli. Dengan badan yang sepadan serta tanpa cacat, beliau mengucurkan pesona, beliau tidak tersaingi dalam perihal kecantikan serta aksi laris bagaikan bendera kemenangan yang dinaikkan di jalan- jalan raya di halaman main Kilamandala kepunyaan Raja Mara bernama Manobhu.

Seremoni Pelantikan

8 puluh ribu saudara kerajaan yang dipandu oleh raja Suddhodana, papa Boddhisatta, terkumpul di ruang pertemuan yang besar serta mewah buat memperingati penobatan Boddhisatta Pangeran Siddhatta yang dilengkapi dengan dinaikkannya parasut putih kerajaan di atas kepalanya, pancuran air dingin( abhiseka) serta dengan cara sah naik tahta.

Dari 4 puluh ribu gadis yang diserahkan oleh para saudara Sakya, 10. 000 gadis ditugaskan buat melayani Yasodhara Bidadari. 30. 000 lebihnya ditugaskan selaku abdi di 3 kastel, tiap- tiap 10. 000.

Sehabis Pangeran Siddhattha menikah dengan Gadis Yasodhara, hingga kekuatiran Raja Suddhodana kira- kira menurun, karena Raja senantiasa ingat pada khianat dari Pertapa Asita kalau Pangeran nanti hendak jadi Buddha.

Dengan pernikahannya ini Raja berambisi Pangeran hendak lebih diikat pada keadaan duniawi. Saat ini bermukim melindungi biar Pangeran janganlah memandang 4 insiden mengenai nafkah, ialah orang berumur, orang sakit, orang mati serta orang pertapa bersih.

Sebab itu, Raja menginstruksikan pengawal- pengawalnya supaya Pangeran dilindungi janganlah hingga memandang 4 perihal itu. Jika terdapat dayangnya yang sakit, hingga dayang itu lekas disingkirkan. Seluruh dayang serta pengawalnya merupakan banyak orang belia muda. Berikutnya, Raja menginstruksikan buat membuat tembok besar mengitari kastel serta ladang dengan pintu- pintu yang kuat kokoh serta dilindungi siang malam oleh banyak orang keyakinan Raja.

Dengan begitu, Pangeran Siddhattha serta Gadis Yasodhara memadu cinta di 3 istananya yang elegan sekali serta senantiasa dikelilingi oleh penari- penari serta dayang- dayang yang cantik- cantik. Raja merasa puas dengan apa yang sudah dikerjakannya serta berambisi kalau pangeran nanti bisa menggantinya selaku Raja negeri Sakya.

By gaykuesiac
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.