Category Archives: Media

Ajaran Kemoralan Dalam Karma Kagyu Institut Agama Budha Asia

Ajaran Kemoralan Dalam Karma Kagyu Institut Agama Budha Asia – Masyarakat Asia merupakan salah satu masyarakat yang banyak memeluk agama di dunia. Penyebaran agama di kawasan Asia sendiri cukup beragam. Ada beberapa agama yang banyak dianut oleh masyarakat Asia seperti Islam, Buddha, Kristen, Hindu Konghucu, atau bahkan kepercayaan lainnya. Dalam memeluk suatu agama mereka berusaha untuk menjauhi larangan serta melaksanakan kewajiban dari ketentuan agama masing-masing.
Di kawasan Asia sendiri, Budha merupakan salah satu agama yang menduduki urutan nomor 4 sebagai agama terbesar di Asia. Pemeluk agama Buddha tersebar di beberapa negara di kawasan Asia. Bagi pemeluk agama Budha mereka menggunakan Sang Buddha yang merupakan pedoman hidup bagi para pemeluknya. Penerapan doktrin juga di lakukan oleh para pemeluk agama Buddha dengan tujuannya mereka dapat hidup lebih baik di dunia ini.

Dalam agama Buddha ada sebutan Gyalwa Karmapa yang merupakan seorang pimpinan spiritual Karma Kagyu. Sedangkan Karma Kagyu sendiri merupakan sebuah institusi agama Buddha Di Asia. Institut Agama Buddha Ini pertama kali dikenalkan di Tibet. Bagi para pemeluk Buddha mereka diwajibkan untuk berusaha menjalankan kehidupan baik di dunia. Karma Kagyu yang merupakan institusi agama Buddha di kawasan Asia sendiri memiliki prinsip hukum tersendiri yang mengharuskan para pemeluk agama Buddha menerapkannya.

Dalam ajaran Buddha sendiri prinsip hukum mengenai Karma Kagyu sama seperti dengan sebab dan akibat. Bagi masyarakat umum karma sendiri memiliki artian sebagai suatu bentuk timbal balik dari perbuatan yang tidak baik atau tercela. Namun dalam sisi Karma Kagyu yang merupakan Institut Agama Buddha yang ada di kawasan Asia mengartikan bahwa karma sendiri memiliki makna yang universal. Oleh karena itu tidak berarti bahwa karma akan diterima dalam bentuk yang buruk.

Para pemeluk agama Buddha meyakini bahwa apa yang mereka dapatkan nanti sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Mereka akan mendapatkan karma baik ataupun karma buruk. Mereka yang melakukan hal-hal baik tentunya akan mendapatkan karma baik kedepannya. Sedangkan mereka yang melakukan perbuatan tercela nantinya akan mendapatkan hukuman berupa karma buruk. Secara keseluruhan Karma Kagyu sendiri mengajarkan bahwa pemeluk agama Buddha harus bisa mengenal adanya batasan perilaku yang mereka perbuat selama mereka masih hidup di dunia ini. Mereka akan berusaha melakukan perbuatan yang baik dan bisa mendapatkan karma baik.

Ajaran yang disampaikan dalam Karma Kagyu sendiri merupakan ajaran yang berisikan moralitas untuk para pemeluk agama Budha. Bertujuan baik untuk dapat menuntun manusia menjalani hidup yang lebih baik dengan merasakan kebahagiaan ketika masih hidup di dunia. Dalam agama Buddha sendiri setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing untuk dapat menghindari kemalangan. Hal tersebut ditujukan untuk mendapatkan suatu pembebasan.

Untuk dapat melakukan hal baik tentunya umat Buddha ini diajarkan untuk melakukan usaha serta pemahaman langkah-langkah apa yang bisa mereka lakukan untuk mencapai tujuan. Para penganut agama Buddha diajarkan untuk memilih Jalan Mulia dengan unsur delapan. Dalam agama Buddha juga dikenal dengan istilah unsur sila atau yang disebut dengan kemoralan, kemudian panna atau yang disebut dengan kebijaksanaan, serta samadhi atau yang disebut dengan konsentrasi.

Lima sila merupakan sebuah ajaran yang digunakan oleh para penganut agama Buddha mengenai kemolalan. Kemoralan yang dijunjung tinggi oleh para penganut agama Buddha sendiri berkaitan dengan menyucikan pikiran, menghindari tindakan kejahatan, dan melakukan hal-hal baik yang lainnya. Kejahatan yang dimaksud seperti contohnya yaitu membunuh makhluk hidup, mencuri, melakukan berbagai macam perbuatan asusila, atau melakukan kebohongan. Selain itu dalam agama Buddha juga diajarkan untuk berusaha menghindari makanan dan minuman yang dapat membuat kehilangan kesadaran dan ketagihan seperti contohnya mabuk ataupun bermain judi online terus menerus di http://104.145.231.244 tanpa henti.

3 Cara Menghapus Kesengsaraan Menurut Karma Kagyu

3 Cara Menghapus Kesengsaraan Menurut Karma Kagyu

3 Cara Menghapus Kesengsaraan Menurut Karma Kagyu – Kamtsang atau biasa juga disebut dengan karma Kagyu merupakan salah satu mazhab besar yang ada di Agama Buddha di Tibet. Mahzab besar ini mengajarkan karma Kagyu Agama Buddha di Tibet. Gyalwa Karmapa atau biasa juga disebut dengan Karmapa merupakan pemimpin besar dari Karma Kagyu di Agama Buddha di Tibet ini. Karmapa atau Gyalwa Karmapa biasa juga dikenal dengan biksu. Biksu ini merupakan guru dari agama Buddha.

Di dalam benua Asia agama agama sangatlah beranekaragam, baik itu agama Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dan Konghucu. Di setiap negara warganya dibebaskan dalam memeluk agamanya sendiri. Agama yang dianutnya juga mengajarkan kita sebagai manusia untuk melakukan hal hal yang baik serta positif dan menjauhkan larangannya. Setiap agama pasti mempunyai tujuan yang baik untuk pemeluknya dan juga memiliki pedoman dari agamanya.

Dalam agama Buddha kita melakukan hal hal yang baik serta positif itu sudah tertera dalam praktik kitab Buddha. Gyalwa Karmapa merupakan biksu ataupun imam besar yang memimpin ibadah di agama Buddha ini selain itu Karmapa ini juga memberikan pencerahan serta penjelasan bagi umat yang beragama Buddha ini agar kita selalu melakukan hal hal yang baik dan positif.

Para pemeluk ajaran agama Buddha ini juga harus mengetahui Dukka kebenaran mulia ajaran agama Buddha. Dukka menceritakan dan menjelaskan bahwasanya terdapat 5 jenis penderitaan yang dialami manusia dalam Ia hidup. Dari masa kelahiran, umur yang tua, serta kematian, dijauhkan dan dipisahkan dengan orang orang tersayang, dan juga cita cita atau suatu hal yang tidak dapat bisa kita raih. Di agama Buddha ini menjelaskan penderitaan yang dialami manusia ada sebabnya.

Penderitaan ini disebabkan nafsu manusia terhadap sesuatu. Nafsu merupakan sebuah candu yang dialami manusia serta nafsu ini jika kita teruskan tidak terdapat ujungnya. Hal ini memang tentunya sifat yang dialami manusianya itu sendiri. Sebagai manusia kita harus bisa mengendalikan diri kita terhadap nafsu yang kita punya. Tidak hanya agama Buddha melainkan seluruh agama mengajarkan bahwa kita harus mengendalikan diri kita. Sesuatu hal yang berlebihan tentunya akan berakibat buruk terhadap diri kita dan lingkungan.

Pemadaman atau biasa kita sebut dengan Nirodha merupakan jalan kebenaran dari agama Buddha ini. Pemadaman ini merupakan pemadamn atas kesengsaraan yang dialami manusia selama masa hidupnya. Kesengsaraan ini dapat dihapuskan dan dihilangkan dengan cara menghapus keinginan yang sempurna. Menghapusnya keinginan ini dengan sempurna membuat kesengsaraan manusia menghilang dari hidupnya, hal ini menurut kepercayaan agama Buddha itu sendiri. Penderitaan atau kesengsaraan akan hilang juga dengan cara kita harus melakukan hal hal yang baik dan positif kesesama manusia di muka bumi ini.

3 Cara Menghapus Kesengsaraan Menurut Karma Kagyu

Jalan pelepasan atau marga merupakan jalan kebenaran bagi agama Buddha dan penganutnya. Jalan ini harus dilalui dan ditempuh manusia selama masa hidupnya. Jalan ini juga merupakan salah satu cara yang dijelaskan dalam menghapus dan menghilangkan kesengsaraan manusia.

Menghapus atau menghilangkan kesengsaraan manusia dapat dijelaskan dalam agama Buddha. Penghapusan kesengsaraan ini dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan kebijakan yang terdiri dari pikiran besar atau samma ditthi dan samma sankappa. Kebijakan kedua yaitu sila yang terdiri dari samma kammanta (perbuatan benar). Kebijakan ini menganjurkan kita untuk berbuat baik, baik itu dalam perbuatan maupun ucapan. Perbuatan ini dapat menghapus dosa dosa yang telah manusia perbuat. Kebijakan ketiga yaitu konsentrasi benar.

Pidato Karmapa Dabao Fawang di Hari Waisyak Guru Institusi Karma Kagyu Hongkong

Pidato Karmapa Dabao Fawang di Hari Waisyak Guru Institusi Karma Kagyu Hongkong

Pidato Karmapa Dabao Fawang di Hari Waisyak Guru Institusi Karma Kagyu Hongkong – New Horizon Budhist Center merupakan salah satu cabang intitusi karma kagyu yang berasal dari Tibet. Pada hari waisyak guru “Diamond way” Dabao Fawang menyampaikan pesan pada para pengikutnya mengenai hari kelahiran. Dabao Fawang menyampaikan bahwa berdasarkan persepsi atau filosofi ajaran Buddha menyangkut kelahiran adalah hal tentang masa lalu. Secara keseluruhan baik masa lalu, masa sekarang maupun masa depan tidak melekat padanya sebuah kelahiran maupun kematian. Agama buddha tidak memandang sebuah kelahiran ataupun kematian adalah hal yang absolut. Secara relatif ada penampilan dari kelahiran namun kelahiran merupakan sesuatu yang hampir tidak ada melainkan hanya sebagai sebuah alasan dari perayaan. Adanya paham reinkarnasi membuat bahwa kematian dan kelahiran adalah sesuatu dari ketiadaan. Berkaitan dengan hal tersebut sama halnya dengan kelahiran dan kematian dari Shidarta Buddha Gautama yang tadinya hanya seorang pangeran menjadi sosok yang luar biasa yakni sosok Budha.

Penganut sekte karma kagyu memandang bahwa kemungkinan yang dialami oleh buddha dapat menimpa siapa saja. Oleh sebab itu perayaan Waisak hanya melakukan ritual-ritual tradisional seperti pembacaan dan mendengarkan kitab Sutera, meditasi, berbelas kasih melalui samadhi, dan selain itu, juga ada kegiatan amal yang dilakukan oleh para anggota agenbola108.cc yang menyumbangkan banyak barang & uang untuk membantu orang yang sedang membutuhkan atau kesusahan. Selain kegiatan itu, pada bulan Desember atau Januari setiap tahunnya. Pengikut empat aliran Budhisme Tibet berkumpul untuk berbagi doa aspirasi di tempat-tempat suci bagi umat buddha. Kegiatan ini merupakan bagian dari ritual tahunan yang selalu dilakukan oleh ratusan murid yang terdiri dari empat aliran Budhisme yang berasal dari tibet. Ini adalah salah satu peristiwa paling penting dalam kalender Buddha. Sejak tahun 1996, kegiatan doa bersama tersebut adalah sebuah pembacaan doa aspirasi yang disebut sebagai “Doa Samantabhadra”.

Doa Samanthabadra merupakan kumpulan dari berbagai kata-kata sang Buddha yang tersimpan di Kanjur. Doa ini berisi seputar keinginan Altruistis yang sangat tini bahwa seorang manusia mencapai pencerahan pada tingkat tertinggi untuk memimpin seluruh mahluk menuju pencerahan kebenaran. Berdasarkan apa yang disampaikan oleh guru ajaran karma kagyu kegiatan membaca doa bersama-sama pada tempat-tempat suci membuat kekuatan doa meningkat seratus ribu kali atau bahkan lebih. Pembacaan doa mampu memberikan konstribusi secara signifikan pada kesejahteraan dan perkembangan spiritual bagi seluruh makhluk hidup dan membantu bagi setiap manusia untuk mencapai pencerahan. Tempat dimana memiliki kesucian tertinggi adalah Bodhi Gaya. Tempat ini merupakan tempat dimana Siddharta Buddha Gautama mencapai pencerahan dan merupakan situs ziarah utama bagi umat budha dari seluruh aliran. Oleh sebab itu banyak kegiatan yang dilakukan di tempat ini pada khususnya adalah kegiatan sakral seperti doa bersama bagi murid dan guru penganut aliran karma kagyu.

Materi Sejarah Institusi Karma Kagyu Di Seluruh Asia Yang Wajib Diketahui

Materi Sejarah Institusi Karma Kagyu Di Seluruh Asia Yang Wajib Diketahui

Materi Sejarah Institusi Karma Kagyu Di Seluruh Asia Yang Wajib Diketahui – Istilah “Kagyu” secara bahasa bermula dari Suku kata pertama yaitu “Ka” yang berarti Kitab suci Sidharta Buddha Gautama, selain itu juga berarti sebuah instruksi lisan dari seorang guru. Kata “Ka” secara harfiah memiliki arti baik makna yang tercerahkan yang disampaikan oleh kata-kata guru, maupun kekuatan yang dibawa oleh kata-kata berupa wawasan. Sedangkan suku kata yang kedua adalah “gyu” yang berarti berarti garis keturunan atau tradisi. Jika kedua suku kata di satukan maka, suku kata ini berarti “garis keturunan dari instruksi lisan.” Berikut ini adalah sinopsis singkat dari silsilah Kagyu tentang beberapa orang pendiri besar yang membangun tradisi kuno dan mengajarkannya dari “mulut ke telinga” hingga berabad-abad lamanya. Silsilah Kagyu melacak asal-usulnya kembali ke sejarah yaitu Buddha, Shakyamuni melalui Marpa, penerjemah dan yogi hebat, yang membawa silsilah yang tak terputus dari India ke Tibet. Sumber informasi sejarah bermula dari seorang yang bernama Marpha sang penerjemah berikut merupakan silsilah kagyu dari para pendahulu yang berperngaruh terhadap Karma Kagyu hingga sekarang.

– TILOPA DAN NAROPA
Marpa menerima silsilah ajaran tantra yang disebut Empat Transmisi Khusus (bk’a-babs-bzhi): para yoga dari 1) tubuh ilusif dan pemindahan kesadaran, 2) mimpi, 3) luminositas, dan 4) keuatan alam . Naropa memperoleh ajaran-ajaran ini langsung dari Tilopa (988-1069), yang kemudian menerimanya dari dua sumber asli, yang disebut garis keturunan langsung dan tidak langsung. Silsilah langsung dan sumber asli dari ajaran ini adalah Buddha Vajradhara. Tilopa dan Naropa adalah beberapa panditas, cendekiawan, dan siddha terhebat, orang suci ulung, dari Nalanda, universitas Buddhis terkenal di India kuno.

– MILAREPA
Marpa membawa garis silsilah ini ke Tibet, meneruskannya kepada murid utamanya dan para pemegang garis silsilah, Milarepa (1040-1123), yogi tantra Tibet yang paling terkenal dan berprestasi, yang mencapai pencerahan dalam satu masa kehidupan. Milarepa memegang silsilah dan tradisi Silsilah Latihan. Beberapa siswa hebat Marpa lainnya adalah Ngog Choku Dorjey, Tsurton Wangey, dan Meton Chenpo, yang memegang tradisi Marpa tentang Silsilah Pengajaran. Inilah bagaimana dua sistem hebat dari garis silsilah latihan dan silsilah pengajaran didirikan dalam silsilah Kagyu.

– GAMPOPA
Master agung Gampopa (1084-1161), juga dikenal sebagai Dakpo Lhaje, dan Rechungpa (1084-1161) adalah murid-murid utama Milarepa. Gampopa dinubuatkan dalam sutra oleh Buddha. Dia memelopori membangun kerangka silsilah dengan menyatukan silsilah Mahamudra Milarepa dengan tahapan tradisi jalur silsilah Kadampa. Silsilah dan tradisi ini dikenal sebagai Dhakpo Kagyu. Gampopa memiliki 3 murid utama yaitu sebagai berikut ini:Saltong Shogom, Düsum Khyenpa dan Phakmo Drupa. Düsum Khyenpa (1110-1193), juga dikenal sebagai Khampa Usey (secara harfiah, “Khampa berambut putih”). Gampopa dikenal sebagai Karmapa Pertama yang mendirikan garis keturunan Karma Kagyu

Pendidikan Ajaran Agama Buddha juga Berperan Penting pada Intitusi Indonesia

Pendidikan Ajaran Agama Buddha juga Berperan Penting pada Intitusi Indonesia

Hukum karma dalam ajaran agama Buddha merupakan ajaran yang dalam dan rumit. Untuk memahami ajaran hukum karma menurut agama Buddha ini dibutuhkan suatu uraian yang terperinci. Karena secara umum sendiri karma adalah suatu perbuatan. Hukum karma menurut umat Buddha adalah hukum sebab akibat, juga merupakan hukum moral. Dimana tidak mungkin ada suatu akibat tanpa adanya sebab yang dilakukan oleh sebuat perbuatan baik ataupun buruk. Oleh sebab inilah ajaran agama Buddha bisa masuk kesuatu wilayah kerajaan dengan damai.

Di Asia agama Buddha juga sudah menyebar luas, terutama di Indonesia. Beberapa pemain judi yang bermain game sbobet di agen sbobet terpercaya juga menganut ajaran agama buddha, namun banyak orang yang sangat menghormati agama ini. Hingga agama Buddha juga sudah dipertimbangkan oleh Peraturan Mentri Agama tentang pendidikan Keagamaan Buddha di Indonesia. Ini semua dilakukan dalam rangka membentuk masyarakat Buddha yang berkualitas. Selain itu, untuk membentuk masyarakat Buddha yang berkualitas dibutuhkan pendidikan Buddha secara formal, non formal hingga informal. Dengan ini anda bisa tahu bahwa ajaran agama Buddha juga berperan penting di dalam institusi pendidikan yang ada di Indonesia bagi sebagian masyarakat yang memeluk ajaran agama Buddha. Dan juga semua tentang aturan pelajaran tentang ajaran agama Buddha baik secara formal sampai non formal sudah ada di dalam Peraturan Mentri Agama Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Buddha.

Agama Buddha juga mempunyai perwakilan di Indonesia yaitu WALUBI atau bisa disebut dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia. Dimana perwakilan umat Buddha Indonesia ini terdiri atas Majelis-Majelis Agama Buddha, Lembaga Keagamaan Buddha sampai Wadah Kemasyarakatan yang memeluk agama Buddha. Organisasi ini didirikan tanggal 8 Mei 1978 di DKI Jakarta berdasarkan Konsensus Nasional Umat Buddha Indonesia dan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya. Beberapa Majelis Buddha yang ada di dalam organisasi WALUBI antara lain, Majubuthi, MBI, PBN NSI, Majabumi TSI, YPSBDI dan masih ada yang lainnya. Organisasi ini juga memiliki kedudukan dan wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal yang Berkaitan dengan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia

Hal yang Berkaitan dengan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia

Islam, Kristen, Hindu dan Buddha merupakan agama-agama yang dipeluk oleh masyarakat Asia dan dunia. Ketika masyarakat memutuskan untuk memeluk salah satu agama, mereka berupaya melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan dan meninggalkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan guna mendapatkan pahala. Dari beberapa agama yang dipeluk dan tersebar di kawasan Asia, agama Buddha merupakan agama terbesar nomor empat yang dipeluk oleh masyarakat. Di dalam menjalankan kehidupannya, pemeluk agama Buddha menggunakan kehidupan sang Buddha sebagai pedoman hidup. Agama Buddha juga menerapkan doktrin kepada para pemeluknya agar mereka dapat hidup baik di dunia. Karma Kagyu merupakan salah satu doktrin agama Buddha yang dituntun oleh seorang pemuka agama Buddha. Gyalwa Karmapa merupakan sebutan untuk pemimpin agama Buddha yang memimpin spiritual Karma Kagyu

Sebagai institusi agama Buddha di kawasan asia, harus benar-benar diterapkan oleh para pemeluk agama Buddha. Jika diperhatikan dengan seksama, Karma Kagyu memiliki prinsip hukum mengenai sebab dan akibat. Secara umum, karma memiliki aksi atau perbuatan. Pemeluk agama Buddha nantinya akan menemukan karma baik dan karma buruk di dalam kehidupannya. Meskipun istilah karma telah banyak digunakan, masyarakat cenderung mengartikan karma merupakan sebuah hukuman yang berat. Berbeda dengan pandangan masyarakat awam, agama Buddha memandang karma sebagai hukum yang universal. Tidak ada akan sesuatu hal jika tidak ada sebab. Seseorang akan mendapatkan karma baik jika melakukan hal-hal yang baik juga dan akan mendapatkan karma buruk ketika melakukan hal-hal yang tercela. Karma Kagyu harus diperhatikan dengan baik oleh pemeluk agama agar memiliki kehidupan yang baik di dunia dan mengenal batasan perilaku yang seharusnya dilakukan semasa hidup

Hal yang Berkaitan dengan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia

Karma Kagyu juga berisikan moralitas ajaran agama Buddha. Moralitas tersebut memiliki tujuan untuk menuntun manusia untuk hidup dengan kebahagiaan yang tinggi di dunia. Di dalam menuju pembebasan, umat Buddha memiliki tanggung jawab untuk menghindari kemalangannya sendiri. Pembahasan kemalangan dapat dilakukan dengan melakukan usaha dan pemahaman akan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. Moralitas yang diajarkan oleh agama Buddha mencakup menghindari kejahatan, menyucikan pikiran dan melakukan hal-hal yang baik. Kemoralan umat Buddha tertuang di dalam lima sila. Kelima sila kemoralan umat Buddha memiliki arti yang sangat penting. Berikut ini merupakan arti yang tertuang di dalam lima sila kemoralan agama Buddha:

  1. Bertekat melatih diri untuk menghindari aksi pembunuhan terhadap makhluk hidup.
  2. Bertekat melatih diri untuk menghindari barang-barang curian.
  3. Bertekat melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila.
  4. Melatih diri untuk tidak melakukan perkataan bohong atau dusta.
  5. Bertekat melatih diri untuk menghindari beragam jenis makanan dan minuman yang menyebabkan kesadaran diri melemah.
Agama Buddha Tidak Pernah Memaksa Siapapun untuk Mengikuti Ajarannya

Agama Buddha Tidak Pernah Memaksa Siapapun untuk Mengikuti Ajarannya

Penganut ajaran agama Buddha memang tidak banyak di Asia, karena ajaran agama Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk berpindah agama dan mencela agama yang sebelumnya dianut. Ajaran agama Buddha hanya ingin membagikan ilmu yang didapatkannya untuk membantu seseorang yang merasa tidak bahagia dan selalu merasakan duka. Karena ajaran agama Buddha sudah dari dulu diciptakan untuk menemuka sebuah kebahagian. Walaupun tidak banyak penganut ajaran agama Buddha, namun ajaran agama ini cukup dikenal sebagian besar penduduk di Asia dan juga diakui keberadaannya. Tempat untuk ajaran agama Buddha juga sudah disediakan di sebagian daerah Asia untuk menghormati ajaran agama Buddha, sebagai salah satu agama yang diakui di Asia.

Sebagai salah satu ajaran agama yang diakui di dunia, ajaran agama Buddha juga berperan penting di dalam institusi pendidikan di Asia terutama di Indonesia. Walau di Indonesia mayoritas adalah muslim, namun tak membedakan agama maupun ras. Bahkan di Indonesia juga sudah membuat peraturan yang di setujui oleh para mentri agama, tentang pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia. Ajaran agama Buddha di Indonesia memang tak terlalu menonjol dalam institusi maupun yang lain. Namun ajaran agama Buddha selalu bisa membantu untuk menemukan jalan dengan pengetahuan yang dipelajarinya. Seorang perwira TNI pernah berpindah memeluk ajaran agama Buddha hingga menjadi seorang pendeta, namun sang perwira tak mengikut sertakan anak dan istrinya. Ini menunjukkan bahwa ajaran agama Buddha tak pernah memaksa orang untuk meninggalkan agamanya dan berpaling padanya

Selain itu ajaran agama Buddha yang masuk dalam lembaga dan menjelis sebagai perwakilan umat agama Buddha yang lain memiliki tujuan yang ingin diwujudkan diantaranya adalah menjalankan kegiatan yang ada di dalam ajaran Buddha. Misalnya membentuk pembinaan ajaran agama Buddha, melakukan kegiatan ajaran agama Buddha dan masih banyak yang lainya. Selain itu juga untuk melakukan kegiatan social, seperti memberika sebuah pengajaran di sebuah sekolah baik TK, SD, SMP, SMA ataupun SMK. Walaupun bukan pelajaran agama, seperti IPA, IPS, Bahasa ataupun Matematika.

Dharmacakra

Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia Mengenai Jalan Mulia Unsur Delapan

Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia Mengenai Jalan Mulia Unsur Delapan – Buddha adalah agama besar nomor empat di dunia dan dipeluk lebih dari 250.000.000 pemeluk agama yang tersebar di dunia. Di dalam ajarannya, agama Buddha menuntun para pemeluknya untuk melakukan hal yang baik dan menghindari hal-hal yang buruk. Agama Buddha sendiri lahir sejak abad ke 6 dan tersebar merata di kawasan Asia. Karma Kagyu merupakan mazhab agama Buddha yang diajarkan kepada pemeluknya di Asia dan dunia. Sebagai pemimpin ajaran Karma Kagyu, Gyalwa Karmapa memiliki peran di dalam menuntun para pemeluk agama. Gyalwa Karmapa akan mengajarkan Dharmacakra atau unsur delapan dan empat kebenaran mulia kepada pemeluk agama. Setiap ajaran yang diberikan Gyalwa Karmapa kepada pemeluknya di Asia dan dunia, delapan unsur jalan mulia dan kebenaran mulia tidak pernah dilewatkan

Dharmacakra dan kebenaran mulia merupakan doktrin ajaran Buddha yang diajarkan kepada para pemeluknya yang ada di dunia dan asia. Doktrin-doktrin tersebut merupakan panduan hidup manusia ketika berada di dunia sehingga tidak terus-terusan berada pada siklus kematian dan kelahiran. Kebenaran mulia sendiri juga dikenal dengan sebutan kebenaran Ariya. Kebenaran mulia merupakan aspek penting yang dimiliki oleh agama Buddha. Untuk mengetahui akan kebenaran mulia atau kebenaran Ariya, simak penjelasan di bawah ini:

  • Kebenaran Ariya mengenai Dukka
    Dukka memiliki arti penderitaan, beban dan ketidakpuasan. Dukka sendiri terdiri dari lima jenis penderitaan, yakni kelahiran, kematian, umur yang tua, ketidakmampuan dalam meraih keinginan dan tidak dapat bersatu dengan orang-orang yang dikasihi.
  • Kebenaran mulia mengenai asal Dukka
    Setiap penderitaan dapat timbul akibat adanya sebab. Sebab atau samudaya sebuah penderitaan adalah nafsu yang dimiliki oleh manusia. Manusia layaknya narkoba yang membuat manusia merasa ketagihan untuk terus-menerus melakukan hal-hal yang didasari oleh nafsu.
  • Kebenaran mulia mengenai terhentinya Dukka
jalan mulia unsur delapan
  • Kebenaran mulia mengenai jalan menghentikan Dukka
    Sesuai dengan penjelasan di atas, jalan mulia unsur delapan merupakan doktrin lainnya yang dikenalkan oleh para pemuka agama Buddha. Kedelapan unsur jalan mulia tersebut juga menjadi salah satu ajaran yang ada pada Karma Kagyu. Untuk mengetahui akan jalan mulia unsur delapan tersebut, simak ulasannya di bawah ini:
  1. Pengertian benar
    Merupakan pengetahuan yang dilengkapi dengan penembusan atas empat kebenaran mulia, hukum karma, hukum Tilakkhana dan hukum Paticca Samuppada.
  2. Pikiran benar : Pikiran yang terbebas dari nafsu, rasa benci dan bebas terhadap kekejaman.
  3. Ucapan benar : Usaha menahan diri agar tidak berbohong, mengucap kata-kata yang kasar, memfitnah dan menggunjingkan orang lain.
  4. Perbuatan benar
  5. Penghidupan benar
  6. Usaha benar
  7. Perhatian benar
  8. Konsentrasi benar : Memusatkan pikiran akan objek dengan tepat sehingga batin dapat mencapai keadaan yang tinggi dan mendalam.
Sejarah Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Salah Satu Institusi di Indonesia

Sejarah Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Salah Satu Institusi di Indonesia

Majelis Buddhayana Indonesia atau bisa disebut MBI merupakan salah satu anggota dari WALUBI juga salah satu majelis yang ada di Indonesia. Intitusi ini didirikan pada tanggal 4 Juli 1955 oleh Ashin Jinarakkhita di Semarang tepatnya beralokasi di Wihara Buddha Gaya, Jawa Tengah. Dengan nama PUUI merupakan kepanjangan dari Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia yang diketuai Maha Upaya Madhiyantika S. Mangunkawatja

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dulunya bernama Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI). Namun dalam suatu musyawarah akhirnya nama Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) diubah menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) yang diketuai oleh M.U.Sasanasinha Soementri MS yang dulunya juga ketua Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI). Sasanasinha juga dibantu oleh pengurus MBI lainnya diantaranya adalah Drs. Johan Sani, Suwarto Kolopaking, Sumananda Yasmin Dicky Dharma Kusumah,Cokrowibowo, SH dan Prajnamitra. Tahun 1981 Sasanasinha sebagai ketua Majelis Buddhayana Indonesia mendapatkan sebuah kepercayaan sebagai ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Kemudian pada tahun 1986 Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) mengadakan kongres di daerah Pacet, Cianjur, Jawa Barat untuk menentukan ketua baru. Dalam kongres tersebut akhirnya yang terpilih menjadi ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) yang baru adalah Drs. Tjoetjoe Alihartono bersama dengan Sekjen Drs. Eddy Hertanto, SH

Sejarah Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Salah Satu Institusi di Indonesia

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) mempunyai suatu tujuan yaitu mengenalkan dan berbagi ajaran Buddha tentang essensi secara kontekstual dengan menggunakan transformasi diri dan social yang berpegangan teguh pada nilai plurarisme, universalisme, non sectarian dan inklusivisme serta keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa atau Sanghyang Adi Buddha. Lebih jelasnya lagi MBI memiliki tujuan untuk, menjalankan kegiatan yang ada di dalam bidang keagamaan ajaran Buddha dan juga menjalankan kegiatan dalam bidang social. MBI (Majelis Buddhayana Indonesia) berusaha mewujudkannya dengan cara menjalankan kegiatan yang beriringan bersama Sangha Agung Indonesia (SAGIN) yang juga didukung oleh Yayasan Dharmacakra Mandala Grha. Walaupun begitu Majelis Buddhayana Indonesia selalu berhati-hati dalam mengambil ataupun menjalankan keputusan karena teringat hukum karma yang dalam ajaran agama Buddha adalah hukum sebab akibat dan moral.

Kebenaran yang Diajarkan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia

Kebenaran yang Diajarkan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia

Kebenaran yang Diajarkan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia – Kepercayaan di kawasan Asia memiliki nama-nama yang berbeda. Meskipun demikian, setiap kepercayaan yang berada di Asia mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan diri dari hal-hal yang negatif. Buddha merupakan salah satu kepercayaan di Asia yang menuntun para pemeluknya untuk melakukan hal-hal baik berdasarkan praktik Buddha yang telah ditafsirkan. Berbicara mengenai agama Buddha di kawasan Asia, kita akan mengenal akan Karma Kagyu. Karma Kagyu atau Kamtsang merupakan empat kebenaran yang diajarkan oleh pemimpin yang dikenal dengan sebutan Gyalwa Karmapa. Para pemimpin ini akan memberikan penjelasan dan pencerahan kepada pemeluk agama Buddha akan aspek kehidupan yang perlu untuk dilakukan. Karena itulah, para pemeluk agama Buddha yang ada di Asia dan dunia harus mengetahui kebenaran mulia agar tidak terkukung di siklus kematian dan kelahiran secara terus menerus

Dukka merupakan salah satu kebenaran mulia ajaran Buddha yang harus diketahui oleh para pemeluknya. Dukka menjelaskan kepada manusia bahwa ada 5 jenis penderitaan yang akan dialami oleh setiap anggota semasa hidupnya, yaitu penderitaan tersebut berupa kelahiran, umur yang tua, kematian, dipisahkan dengan orang-orang yang terkasih dan tidak mampu mencapai hal-hal yang diinginkan semasa hidup. Kebenaran mulia yang kedua adalah samudaya atau sebab. Sebuah penderitaan dapat muncul berdasarkan dengan sebab. Gyalwa Karmapa menjelaskan bahwa sumber dari penderitaan manusia adalah nafsu yang tiada habisnya. Nasfu merupakan candu yang dapat menyebabkan seseorang merasa ketagihan dan ingin menggunakannya secara terus menerus. Nafsu merupakan penyebab dari timbulnya penderitaan yang akan dialami oleh manusia. Nafsu bahkan dapat disamakan dengan air laut yang rasanya asin. Rasa haus justru akan semakin bertambah ketika meminum air laut yang terasa asin

Kebenaran yang Diajarkan Karma Kagyu Institusi Agama Buddha di Asia

Nirodha atau pemadaman merupakan jalan kebenaran Karma Kagyu. Pemadaman atas kesengsaraan yang diderita oleh manusia dapat dihapuskan dengan cara menghilangkan keinginan dengan sempurna. Keinginan yang hilang dengan sempurna mampu membuat kesengsaraan hidup mereda atau hilang sama sekali. Ketika keinginan manusia dihilangkan, maka penderitaan yang diderita akan hilang dengan sendirinya. Jalan kebenaran keempat yang diajarkan di Asia adalah marga atau jalan pelepasan. Marga merupakan jalan yang seharusnya ditempuh oleh manusia guna menghindari penderitaan. Jalan menghentikan kesengsaraan dibagi menjadi tiga kelompok, yakni:

  1. Kebijaksanaan atau panna yang terdiri dari pikiran besar atau samma sankappa dan pengertian besar atau samma ditthi.
  2. Kemoralan atau sila yang terdiri dari perbuatan benar atau samma kammanta, ucapan benar atau samma vaca dan pencaharian benar atau samma ajiva.
  3. Konsentrasi atau samadhi yang terdiri dari konsentrasi benar atau samma samadhi, perhatian benar atau samma sati dan upaya benar atau samma vayama.
Sejarah dan Penyebaran Agama Buddha di Asia

Sejarah dan Penyebaran Agama Buddha di Asia

Agama Buddha merupakan ajaran agama yang berasal dari anak Benua India. Siddhattha Gotama penemu ajaran ini, setelah mencapai pencerahan sempurna dan dikenal sebagai Sang Buddha. Sang Buddha adalah pangeran dari kerjaan Sakya. Lahir di Lumbini tepatnya yang beralokasi di daerah Nepal pada tahun 563 Sebelum Masehi (SM). Pada usianya yang ke 29 tahun memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawinya yang mewah, karena merasakan penderitaan walaupun hidup dalam kemewahan. Inilah awal Sang Buddha mencari jalan menuju kebahagiaan sejatinya. Enam tahun perjuang Sang Buddha selalu berujung dengan kegagalan, hingga suatu ketika menculah jalan tengah untuk mengakhiri penderitaan dan mencapai pencerahan. Dengan ditemukannya jalan tengah Sang Buddha mulai mengajarankan prinsip-prinsip yang didapatkannya selama ini yang disebut dengan Dharma

Agama Buddha tidak mengembangkan gerakan pengutusan untuk menyebar luaskan agamanya. Buddha menyebar luas di daerah Subbenua India, dari sinilah awal agama ini yang akhirnya sampai meyebar luas ke seluruh Asia. Di setiap budaya, cara dan gaya setempat yang ditemui, agama Buddha disesuaikan dengan watak setempat, tampa mengubah pokok penting kebijakan dan welas asih dari ajaran agama. Daerah ataupun kerajaan yang menerima ajaran Buddha mengembangkan bentuk, struktur dan pimpinan rohaninya sendiri. Karena itu penyebaran ajaran ini di sebagian besar Asia bersifat damai. Ajaran agama ini sering berpergian ke kerajaan-kerajaan tetangga untuk membagi wawasan dengan orang yang tertari dan bisa menerima ajaran agama ini. Agama ini juga tidak meminta orang untuk mencela ataupun memaksa seseorang untuk melepaskan agama yang dianutnya. Karena ajaran agama ini semata-mata untuk menolong orang-orang mengatasi ketidak bahagiaan dan duka yang diciptakannya sendiri akibat kurangnya pemahaman. Karena inilah lama-kelamaan ajaran Buddha dikenal hambir di sebagian besar dunia. Walaupun tidak banyyak penganut agama ini

Penganut agama Buddha memanglah tidak sebanyak agama lainnya, jadi tidak mengherankan bila penganut agama ini sangat susah untuk ditemukan di berbagai Institusi Negara. Seperti di Institusi Militer misalnya, akan sangat sulit ditemukan jendral yang memeluk agama Buddha.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!