Mengenal Agama Buddha Siddhartha Gautama

Mengenal Agama Buddha Siddhartha Gautama – Buddha Gautama dilahirkan dengan julukan Siddhārtha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali:” generasi Gotama yang tujuannya berhasil”), ia setelah itu jadi Si Buddha( dengan cara literal: orang yang sudah menggapai Pencerahan Sempurna). – kagyu-asia.com

Mengenal Agama Buddha Siddhartha Gautama

Ia pula diketahui selaku Sakyamuni (orang bijaksana dari kalangan Sakya) serta selaku Tathagata. Siddhartha Gautama merupakan guru kebatinan dari area timur laut India yang pula ialah penggagas Agama Buddha Beliau dengan cara pokok dikira oleh penganut Agama Buddha selaku Buddha Agung (Sammāsambuddha) pada era saat ini.

Durasi kelahiran serta kepergiannya bukanlah tentu: beberapa besar ahli sejarah dari dini era ke 20 berspekulasi kehidupannya antara tahun 800sm+- c. 680, terdapat pula yang beranggapan tahun 623 SM hingga 543 SM; baru- baru ini, pada sesuatu simposium para pakar hendak permasalahan ini,

beberapa besar dari akademikus yang menarangkan opini berspekulasi bertepatan pada berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM buat durasi tewas dunianya, sebaliknya yang lain membahu ditaksir bertepatan pada yang lebih dini ataupun durasi setelahnya.

Baca Juga : Mengenal Agama Buddha Di Asia Lebih Dekat Lagi

Siddhartha Gautama ialah bentuk penting dalam agama Buddha, penjelasan hendak kehidupannya, khotbah- khotbah, serta peraturan keimanan yang dipercayai oleh pengikut agama Buddha dihimpun sehabis kepergiannya serta dihafalkan oleh para pengikutnya.

Bermacam berkas perkakas pengajaran hendak Siddhartha Gautama diserahkan dengan cara perkataan, serta wujud catatan awal kali dicoba dekat 400 tahun setelah itu.

Pelajar- pelajar dari negeri Barat lebih doyong buat menyambut memoar Buddha yang dipaparkan dalam dokumen Agama Buddha selaku memo asal usul, namun belum lama ini” keseganan siswa negeri Barat bertambah dalam membagikan statment yang tidak cocok hal kenyataan historis hendak kehidupan serta pengajaran Buddha.”

Orang tua

Papa dari Pangeran Siddhartha Gautama merupakan Sri paduka Raja Suddhodana dari Kaum shakya serta ibunya merupakan Istri raja Mahāmāyā Bidadari. Bunda Pangeran Siddharta Gautama tewas bumi 7 hari sehabis melahirkan Pangeran.

Sehabis tewas, ia terlahir di alam atau kayangan Tusita, ialah alam kayangan terhormat. Semenjak meninggalnya Istri raja Mahāmāyā Bidadari, Pangeran Siddharta dirawat oleh Istri raja Mahā Pajāpati, bibinya yang pula setelah itu jadi isteri Raja Suddhodana serta jadi bunda ambil dari Pangeran Siddharta Gautama.

Riwayat hidup

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Halaman Lumbini, dikala Istri raja Maha Maya berdiri menggenggam ranting tumbuhan sala. Pada dikala beliau lahir, 2 arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sebaliknya yang yang lain hangat.

Arus itu membilas badan Siddhartha. Siddhartha lahir dalam kondisi bersih tanpa bercak, berdiri berdiri serta langsung bisa berjalan ke arah utara, serta tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga lotus.

Oleh para pertapa di dasar arahan Asita Kaladewala, diramalkan kalau Pangeran nanti hendak jadi seseorang Chakrawartin( Adiraja Bumi) ataupun hendak jadi seseorang Buddha.

Cuma pertapa Kondañña yang dengan jelas meramalkan kalau Pangeran nanti hendak jadi Buddha. Mengikuti khianat itu Sri paduka jadi takut, sebab bila Pangeran jadi Buddha, tidak terdapat yang hendak memperoleh tahta kerajaannya.

Oleh persoalan Raja, para pertapa itu menarangkan supaya Pangeran janganlah hingga memandang 4 berbagai insiden. Apabila tidak, beliau hendak jadi pertapa serta nanti jadi Buddha. 4 berbagai insiden itu merupakan:

  1. Orang berumur,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seseorang pertapa.

Era kecil

Semenjak kecil telah nampak kalau Pangeran merupakan seseorang anak yang pintar serta amat cerdas, senantiasa dilayani oleh pelayan- pelayan serta dayang- dayang yang sedang belia serta menawan cakep di kastel yang mewah serta bagus. Pada dikala berumur 7 tahun, Pangeran Siddharta memiliki 3 kolam bunga lotus, ialah:

  1. Kolam Bunga Lotus Bercorak Biru( Uppala)
  2. Kolam Bunga Lotus Bercorak Merah( Paduma)
  3. Kolam Bunga Lotus Bercorak Putih( Pundarika)

Dalam Umur 7 tahun Pangeran Siddharta sudah menekuni bermacam ilmu wawasan. Pangeran Siddharta memahami seluruh pelajaran dengan bagus. Dalam umur 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya sehabis memenangkan bermacam kejuaraan. Serta dikala dewasa 16 tahun, Pangeran mempunyai 3 Kastel, ialah:

  1. Kastel Masa Dingin( Ramma)
  2. Kastel Masa Panas( Suramma)
  3. Kastel Masa Hujan( Subha)

Era dewasa

Perkata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak hening siang serta malam, sebab takut jika putra tunggalnya hendak meninggalkan kastel serta jadi pertapa, mengembara tanpa tempat bermukim.

Buat itu paduka memilah banyak abdi buat menjaga Pangeran Siddharta, supaya pada putra tunggalnya ini bisa menikmati sebuah hidup pada keduniawian.

Seluruh wujud beban berupaya untuk disingkirkannya dari sebuah kehidupan Pangeran dari Siddharta, semacam sakit, baya berumur, serta kematian, alhasil Pangeran cuma mengenali kenikmatan duniawi.

Sesuatu hari Pangeran Siddharta memohon permisi buat berjalan di luar kastel, di mana pada peluang yang berlainan dilihatnya” 4 Situasi” yang amat berarti, ialah orang berumur, orang sakit, orang mati serta orang bersih.

Pangeran Siddhartha berduka serta bertanya pada dirinya sendiri,” Apa maksud kehidupan ini, jika seluruhnya hendak mengidap sakit, baya berumur serta kematian.

Terlebih mereka yang memohon bantuan pada orang yang tidak paham, yang bersama tidak ketahui serta terikat dengan seluruh suatu yang karakternya sedangkan ini!”. Pangeran Siddharta berasumsi kalau cuma kehidupan bersih yang hendak membagikan seluruh balasan itu.

Sepanjang 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kebahagiaan duniawi. Pergolakan hati Pangeran Siddharta berjalan lalu hingga berumur 29 tahun, pas pada dikala putra tunggalnya Rahula lahir.

Pada sesuatu malam, Pangeran Siddharta menyudahi buat meninggalkan istananya serta dengan ditemani oleh kusirnya, Channa. Tekadnya sudah bundar buat melaksanakan Pembebasan Agung dengan menempuh hidup bersih selaku pertapa.

Baca Juga : Bagaimana Agama Memfasilitasi Perdamaian

Sehabis itu Pangeran Siddhartha meninggalkan kastel, keluarga, keglamoran, buat berangkat belajar mencari ilmu asli yang bisa melepaskan orang dari umur berumur, sakit serta mati.

Pertapa Siddharta belajar pada Alāra Kālāma serta setelah itu pada Uddaka Ramāputta, namun tidak merasa puas sebab tidak mendapatkan yang diharapkannya.

Setelah itu ia bersemedi menganiaya diri dengan ditemani 5 orang pertapa. Kesimpulannya ia pula meninggalkan metode yang berlebihan itu serta berkondictionarylasi di dasar tumbuhan Bodhi buat memperoleh Pencerahan Agung.

Era pengembaraan

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama menekuni bimbingan pertapaan dari pertapa Bhagava serta setelah itu memperdalam metode bersemedi dari 2 pertapa yang lain, ialah pertapa Alara Kalama serta pertapa Udraka Rāmaputra.

Tetapi sehabis menekuni metode bersemedi dari kedua gurunya itu, senantiasa belum ditemui balasan yang diinginkannya. Alhasil sadarlah pertapa Gautama kalau dengan metode bersemedi semacam itu tidak hendak menggapai Pencerahan Sempurna.

Setelah itu pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya serta berangkat ke Magadha buat melakukan bersemedi menganiaya diri di hutan Uruvela, di pinggir Bengawan Nairanjana( Naranjara) yang mengalir dekat Hutan Style.

Meski sudah melaksanakan bersemedi menganiaya diri sepanjang 6 tahun di Hutan Uruvela, senantiasa pertapa Gautama belum pula bisa menguasai dasar serta tujuan dari hasil pertapaan yang dicoba itu.

Pada sesuatu hari dalam pertapaannya, pertapa Gotama kehadiran seseorang arwah pemusik atau gandharva yang setelah itu mendendangkan suatu puisi:

“ Apabila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya hendak terus menjadi besar. Jika sangat dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, serta lenyaplah suara kecapi itu. Apabila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya hendak terus menjadi merendah. Jika sangat dikendorkan, hingga lenyaplah suara kecapi itu.”

Ajakan itu amat berarti untuk pertapa Gautama yang kesimpulannya menyudahi buat mengakhiri tapanya kemudian berangkat ke bengawan buat mandi. Tubuhnya yang sudah bermukim tulang nyaris tidak mampu buat menopang badan pertapa Gautama. Seseorang perempuan bernama Sujata berikan pertapa Gautama semangkuk susu.

Tubuhnya dirasakannya amat lemas serta ajal nyaris saja merenggut jiwanya, tetapi dengan keinginan yang keras membaja, pertapa Gautama meneruskan samadhinya di dasar tumbuhan bodhi( Asattha) di Hutan Style, sembari ber- prasetya,” Walaupun darahku mengering, dagingku memburuk, tulang bawak jatuh berantakan, namun saya tidak hendak meninggalkan tempat ini hingga saya menggapai Pencerahan Sempurna.”

Perasaan bingung serta ragu menyerang diri pertapa Gautama, nyaris saja Ia putus asa mengalami bujukan Mara, dewa penggoda yang hebat. Dengan keinginan yang keras membaja serta dengan agama yang konsisten gigih, kesimpulannya bujukan Mara bisa dilawan serta ditaklukkannya. Perihal ini terjalin kala bintang pagi menampilkan dirinya di batas pemandangan timur.

Pertapa Gautama sudah menggapai Pencerahan Sempurna serta jadi Samyaksam- Buddha( Samma sam- Buddha), pas pada dikala bulan Badar Siddhi pada bulan Waisak kala beliau berumur 35 tahun( bagi tipe Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke- 8 bulan ke- 12, bagi penanggalan lunar.

Tipe WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada dikala menggapai Pencerahan Sempurna, dari badan Siddharta memancar 6 cahaya Buddha( Buddharasmi) dengan warna biru( nila) yang berarti bhakti; kuning( pita) memiliki maksud kebijaksanaan serta wawasan; merah( lohita) yang berarti kasih cinta serta simpati kasih; putih( Avadata) memiliki maksud bersih; jingga( mangasta) berarti antusias; serta kombinasi cahaya itu( prabhasvara)

Penyebaran anutan Buddha

Sehabis menggapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama menemukan titel keutuhan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Sakyamuni, Tathagata( Beliau Yang Sudah Tiba, Beliau Yang Sudah Berangkat), Sugata( Yang Maha Ketahui), Bhagava( Yang Agung) serta serupanya.

5 pertapa yang mendampingi Ia di hutan Uruvela ialah anak didik awal Buddha yang mencermati ceramah awal Dhammacakka Pavattana Sutta, di mana Ia menarangkan hal Jalur Tengah yang ditemukan- Nya, ialah 8 Ruas Jalur Fadilat tercantum dini khotbahNya yang menarangkan” 4 Bukti Agung”.

Buddha Gautama bepergian mengedarkan Dharma sepanjang 4 puluh 5 tahun lamanya pada pemeluk orang dengan penuh cinta kasih serta kasih cinta, sampai kesimpulannya menggapai umur 80 tahun, dikala beliau mengetahui kalau 3 bulan lagi beliau hendak menggapai Parinibbana.

Buddha dalam kondisi sakit tergeletak di antara 2 tumbuhan sala di Kusinagara, membagikan ceramah Dharma terakhir pada siswa- siswa- Nya, kemudian Parinibbana( tipe Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke- 15 bulan ke- 2 penanggalan Lunar. Tipe WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Watak Agung Buddha

Seseorang Buddha mempunyai watak Cinta Kasih( maitri ataupun metta) serta Kasih Cinta( karuna). Jalur buat menggapai Kebuddhaan yakni dengan melenyapkan ketidaktahuan ataupun kebegoan hati yang dipunyai oleh orang. Pada durasi Pangeran Siddharta ini sangat ingin untuk meninggalkan kehidupan yang duniawi, beliau sudah meneguhkan 4 Prasetya yang bersumber pada Cinta Kasih serta Kasih Cinta yang tidak terbatas, yaitu

  • Berupaya membantu seluruh insan.
  • Menyangkal seluruh kemauan hasrat keduniawian.
  • Menekuni, mendalami serta mengamalkan Dharma.
  • Berupaya menggapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama awal melatih diri buat melakukan kebaikan kebajikan pada seluruh insan dengan menghindarkan diri dari 10 aksi yang disebabkan oleh badan, perkataan serta benak, yaitu

  1. Badan (banyak): pembantaian, perampokan, aksi jinah.
  2. Perkataan (vaci): pembohongan, dialog tuduhan, artikulasi agresif, obrolan tidak khasiat.
  3. Benak (mano): kemelekatan, hasrat kurang baik serta keyakinan yang salah.

Cinta kasih serta kasih cinta seseorang Buddha merupakan cinta kasih buat keceriaan seluruh insan semacam orang berumur menyayangi buah hatinya, serta menginginkan bantuan paling tinggi terlimpah pada mereka.

Hendak namun kepada mereka yang mengidap amat berat ataupun dalam kondisi hati hitam, Buddha hendak membagikan atensi spesial.

Dengan Kasih Sayang- Nya, Buddha menyarankan biar mereka berjalan di atas jalur yang betul serta mereka hendak dibimbing dalam melawan kesalahan, sampai berhasil” Pencerahan Sempurna”.

Selaku Buddha, Ia sudah memahami seluruh orang serta dengan memakai bermacam metode. Ia sudah berupaya buat memudahkan beban banyak insan.

Buddha Gautama mengenali seluruhnya dasar bumi, Beliau membuktikan mengenai kondisi bumi begitu juga terdapatnya. Buddha Gautama mengarahkan supaya tiap orang menjaga pangkal kebijaksanaan cocok dengan karakter, aksi serta keyakinan tiap- tiap.

Beliau tidak saja mengarahkan lewat perkataan, hendak namun pula lewat aksi. Dalam membimbing pemeluk orang yang memimpikan lenyapnya Dukkha, Ia memakai jalur pembebasan dari kelahiran serta kematian buat membangunkan atensi mereka.

Dedikasi Buddha Gautama sudah membuat diri- Nya sanggup menanggulangi bermacam permasalahan di dalam bermacam peluang yang pada hakikatnya merupakan Dharma- kaya, yang ialah kondisi sesungguhnya dari dasar yang penting dari seseorang Buddha.

Buddha merupakan pertanda dari kesakralan, yang tersuci dari seluruh yang bersih. Sebab itu, Buddha merupakan Raja Dharma yang agung.

Buddha mengkhotbahkan Dharma, hendak namun kerap ada kuping orang yang bego sebab keserakahannya serta kebenciannya, tidak ingin mencermati serta mencermati khotbah- Nya.

Untuk mereka yang mencermati khotbah- Nya, yang bisa paham serta mendalami dan mengamalkan Watak Agung Buddha hendak terbebas dari beban hidup. Mereka tidak hendak bisa terbantu cuma sebab memercayakan kepintarannya sendiri.

Bentuk serta kedatangan Buddha

Buddha tidak cuma bisa mengenali dengan cuma memandang bentuk serta sifat- Nya sekedar, sebab bentuk serta watak luar itu tidaklah Buddha yang asli. Jalur yang betul buat mengenali Buddha merupakan dengan jalur melepaskan diri dari keadaan duniawi atau menempuh hidup dengan mempraktekkan jalur agung berunsur 8.

Buddha asli tidaklah bentuk badan, alhasil Watak Agung seseorang Buddha tidak bisa dilukiskan dengan perkata. Bila seorang bisa memandang nyata wujud- Nya ataupun paham Watak Agung Buddha, tetapi tidak terpikat pada wujud- Nya ataupun sifat- Nya, dialah yang sebetulnya yang sudah memiliki kebijaksanaan buat memandang serta mengenali Buddha dengan betul.

By gaykuesiac
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.