Mengulas Mahayana sutras Kitab Sutra Suci Dari Buddha

Mengulas Mahayana sutras Kitab Sutra Suci Dari Buddha – The Mahayana Sutra merupakan genre yang luas dari Buddha sutra suci yang diperoleh sebagai kanonik serta sebagai buddhavacana (“Buddha kata”) di Mahayana Buddhisme.

Mengulas Mahayana sutras Kitab Sutra Suci Dari Buddha

kagyu-asia.com – Mereka sebagian besar diawetkan dalam kanon Buddhis Tiongkok, kanon Buddha Tibet, serta dalam dokumen Sanskerta yang masih terdapat. Sebagian dupa stra Mahāyāna bertahan dalam bahasa Sansekerta, ataupun dalam alih bahasa bahasa Tiongkok dan Tibet.

Mereka juga kadang- kadang diucap stra” Vaipulya” (luas) oleh sumber- sumber sebelumnya. Ahli Buddhis Asaṅga mengklasifikasikan stra Mahāyāna sebagai bagian dariBodhisattvapiṭaka, kumpulan teks yang tertuju buat para bodhisattva.

Para ahli riset Buddhis modern biasanya beranggapan kalau stra- stra ini awal kali timbul antara era ke- 1 SM serta era ke- 1 M. Mereka terus disusun, dikompilasi, serta diedit sampai kemunduran agama Buddha di India. Sebagian dari mereka bisa jadi juga telah disusun di luar India, semacam di Asia Tengah serta di Asia Timur.

Baca Juga : Mengenal lebih Dekat Dengan Shangpa Kagyu

Buddhis Mahāyāna umumnya menyangka sebagian stra utama Mahāyāna telah diajarkan oleh Buddha Gautama, berkomitmen buat mengingat serta dibacakan oleh murid- muridnya, spesialnya Ananda. Tetapi, stra Mahāyāna yang lain disajikan sebagai diajarkan oleh tokoh- tokoh lain, semacam bodhisattva seperti Mañjuśr serta Avalokiteśvara.

Terdapat berbagai alasan yang diserahkan oleh umat Buddha Mahāyāna India buat menjelaskan fakta kalau mereka cuma muncul di lain waktu. Salah satu sebabnya adalah karena mereka sudah disembunyikan di tanah para naga( dewa ular, naga) hingga waktu yang pas buat penyebaran mereka datang.

Stra- stra Mahāyāna tidak diperoleh oleh seluruh pemeluk Buddha di India, serta bermacam gerakan Buddhis India tidak membenarkan status mereka selaku” firman Buddha”. Mereka biasanya tidak diperoleh selaku kata- kata Buddha oleh gerakan Theravada modern.

Sejarah dan latar belakang

Asal usul serta sejarah awal

Asal usul Mahāyāna serta stra- stranya tidak seluruhnya dipahami. Para ahli modern telah mengajukan banyak teori mengenai asal- usul Mahāyāna serta teks- teks Mahāyāna. Sebagian teori penting adalah sebagai berikut:

Teori asal usul biasa, pertama kali diusulkan oleh Jean Przyluski serta setelah itu dipertahankan oleh tienne Lamotte serta Akira Hirakawa, melaporkan kalau orang biasa sangat penting dalam pengembangan Mahāyāna serta teks- teksnya. Ini beberapa didasarkan pada sebagian bacaan semacam Vimalakirti Sūtra, yang menyanjung tokoh biasa dengan mengorbankan monastik. Teori ini tidak lagi diperoleh dengan cara luas.

Teori yang melaporkan kalau Mahāyāna berkembang dalam tradisi Mahāsāṃghika. Drewes menulis kalau sesungguhnya terdapat sedikit fakta kalau gerakan Mahāsāṃghika mempunyai ikatan spesial dengan penciptaan teks- teks Mahāyāna, serta kelihatannya Mahāyāna timbul selaku kejadian pan- Buddhis.

” Hipotesis hutan”, yang melaporkan kalau Mahāyāna muncul terutama di antara para petapa hutan belantara garis keras( aranyavasins) yang berupaya buat meniru Si Buddha. Ini sudah dipertahankan oleh Paul Harrison serta Jan Nattier. Teori ini didasarkan pada sutra- sutra tertentu seperti Ugraparipṛcchā Sūtra serta Mahāyāna

Rāṣṭrapālapaṛiprcchā yang mempromosikan praktik pertapaan di hutan belantara selaku jalan yang unggul serta elit. Teks- teks ini mengkritik biksu yang bermukim di kota serta merendahkan kehidupan hutan. Tetapi, Drewes menulis kalau cuma sebagian bacaan Mahāyāna dini yang menyarankan ataupun mempromosikan praktik ini, serta Stra lain dengan cara langsung mencegah penunggu hutan atau mengatakan itu tidak perlu.

Kultus teori novel, yang dipertahankan oleh Gregory Schopen, melaporkan kalau Mahāyāna timbul di antara beberapa golongan monastik fans novel yang terhubung secara longgar, yang mempelajari, mengingat, menyalin, serta menghormati stra- stra Mahāyāna tertentu. Schopen pula beranggapan kalau kelompok- kelompok ini mayoritas menyangkal pemujaan stupa, ataupun pemujaan relik suci.

Ajaran

Ide baru

Ajaran- ajaran sebagaimana tercantum dalam stra- stra Mahāyāna secara keseluruhan sudah ditafsirkan sebagai kumpulan banyak ajaran yang terikat longgar, yang sanggup muat bermacam kontradiksi. Sebab unsur- unsur yang kontradiktif ini,” sangat sedikit hal yang dapat dibilang dengan tentu mengenai Buddhisme Mahāyāna”.

Inti dari stra- stra Mahāyāna merupakan angan- angan jalur Bodhisattva, suatu yang tidak istimewa untuk mereka namun karena jalan seperti itu juga diajarkan dalam teks- teks non- Mahayana yang juga menginginkan prediksi kebuddhaan era depan di hadapan seseorang Buddha yang hidup. Yang istimewa dari stra- stra Mahāyāna merupakan gagasan kalau sebutan bodhisattva berlaku untuk siapa saja semenjak mereka berniat jadi seseorang Buddha( yaitu timbulnya bodhicitta) serta tanpa persyaratan seseorang Buddha yang hidup.

Mereka pula mengklaim kalau siapa juga yang menyambut serta memakai stra Mahāyāna sudah menyambut ataupun hendak lekas menyambut ramalan semacam itu dari seseorang Buddha, memutuskan posisi mereka selaku bodhisattva yang tidak bisa diubah. Beberapa stra Mahāyāna mempromosikannya sebagai jalan universal buat seluruh orang, sedangkan yang lain semacam Ugraparipṛcchā melihatnya selaku suatu buat elit kecil pertapa garis keras.

Sedangkan sebagian stra Mahāyāna semacam stra Vimalakirti serta stra Teratai Putih mempersoalkan arhat serta sravaka( merujuk pada non- Mahāyānists) selaku kurang kebijaksanaan, serta menyangkal jalan mereka selaku alat transportasi yang lebih kecil, ialah hīnayāna( jalan inferior), tadinya Sutra Mahāyāna tidak melaksanakan ini. Begitu juga dicatat oleh David Drewes” stra- stra dini Mahāyāna kerap kali menyajikan ajaran- ajaran mereka selaku bermanfaat tidak cuma untuk banyak orang yang mau jadi Buddha, namun pula untuk mereka yang mau menggapai tingkatan arhat ataupun pratyekabuddhadha.

Baca Juga : Agama dan Pendidikan di Seluruh Dunia

Gagasan lama kalau Mahāyāna diawali dengan antipati angan- angan arhat untuk cita- cita bodhisattva dengan demikian jelas tidak benar.” Paul Williams juga menulis kalau stra- stra Mahāyāna tadinya semacam Ugraparipṛcchā Sūtra serta sutra Ajitasena tidak menunjukkan pertentangan apa juga kepada para pemirsa ataupun cita- cita arahat semacam sutra- sutra berikutnya.

Bagi David Drewes, stra- stra Mahāyāna memiliki sebagian elemen tidak hanya promosi cita- cita bodhisattva, termasuk” kosmologi yang diperluas serta asal usul dongeng, gagasan mengenai tanah suci serta Buddha serta bodhisattva langit yang agung, cerita mengenai praktik keimanan terkini yang kokoh, gagasan terkini mengenai watak Buddha, serta bermacam perspektif filosofis terkini.”

Sebagian stra Mahāyāna menggambarkan Buddha ataupun Bodhisattva yang tidak ditemui dalam teks- teks tadinya, semacam Buddha Amitabha, Akshobhya serta Vairocana, serta Bodhisattva Maitreya, Mañjusri, Ksitigarbha, serta Avalokiteshvara. Suatu fitur berarti dari Mahāyāna merupakan metode menguasai watak Kebuddhaan. Teks- teks Mahāyāna melihat para Buddha( serta pada tingkat yang lebih kecil, bodhisattva tertentu juga) sebagai makhluk transendental ataupun lokuttara( lokuttara), yang hidup sepanjang ribuan tahun selalu menolong orang lain lewat kegiatan mereka.

Bagi Paul Williams, dalam Mahāyāna, seseorang Buddha kerap dipandang sebagai” raja spiritual, yang berkaitan dengan serta menjaga bumi”, daripada sekadar seseorang guru yang sehabis kepergiannya” sudah seluruhnya melewati bumi serta kepeduliannya”. Kehidupan serta kematian Buddha Sakyamuni di alam setelah itu umumnya dimengerti dengan cara doktrinal, sebagai” penampakan belaka”, kepergiannya merupakan pertunjukan yang tidak jelas( yang dicoba buat membimbing orang lain), sebaliknya pada faktanya beliau lalu hidup dalam alam transenden buat menolong seluruh insan.

By gaykuesiac
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.