Bagaimanakah Pandangan Dunia Terhadap Agama Budha?

Bagaimanakah Pandangan Dunia Terhadap Agama Budha? – Sebutan” Buddha” merupakan tutur terkini barat, yang lazim dipakai selaku alih bahasa buat Dharma dari Buddha, fójiào dalam bahasa Tiongkok, nang pa Sangs rgyas pa i chos dalam bahasa Tibet, bukkyo dalam bahasa Jepang, buddhadharma dalam bahasa Sanskerta, buddhasasana dalam bahasa Pali.

Empat Kebenaran Mulia

kagyu-asia – 4 Bukti mengatakan arah dasar Buddhisme: kita memimpikan serta menempel pada situasi serta keadaan yang tidak abadi, yang diucap dukkha,” tidak sanggup melegakan” serta menyakitkan.

Baca Juga : Biografi Pendiri dan Penyebar Agama Buddha, Siddharta Gautama

Perihal ini membuat kita terperangkap dalam saksara, daur kelahiran kesekian yang kesekian tanpa akhir, dukkha serta mati kembali. Namun terdapat metode buat melepaskan dari daur tanpa akhir ini mengarah situasi nirwana, ialah menjajaki Jalur Agung Berunsur 8.

Bukti dukkha merupakan pengetahuan dasar kalau hidup di bumi duniawi ini, dengan kemelekatan serta ambisinya pada situasi serta keadaan yang tidak abad merupakan dukkha, serta tidak melegakan.

Dukkha bisa diterjemahkan selaku” tidak sanggup melegakan, watak tidak melegakan serta ketidakamanan biasa dari seluruh kejadian berkondisi”; ataupun” menyakitkan”.

Dukkhapaling kerap diterjemahkan selaku” beban”, namun ini tidak cermat, sebab ini tidak merujuk pada beban episodik, namun pada watak kondisi serta keadaan sedangkan yang dengan cara esensial tidak melegakan, tercantum pengalaman mengasyikkan namun sedangkan. Kita menginginkan keceriaan dari kondisi serta keadaan yang tidak abadi, serta sebab itu tidak bisa menggapai keceriaan asli.

Dalam Buddhisme, dukkha merupakan salah satu dari 3 ciri kehadiran, bersama dengan ketidakkekalan serta anatta( tanpa- diri). Buddhisme, semacam agama- agama besar India yang lain, menerangkan kalau seluruh suatu merupakan tidak abadi( anicca).

Namun, tidak semacam mereka, pula menerangkan kalau tidak terdapat diri ataupun jiwa yang permanen pada insan hidup( anatta). Ketidaktahuan ataupun kesalahpahaman( avijja) kalau seluruh suatu merupakan abadi ataupun kalau terdapat diri dalam insan apapun dikira selaku uraian yang salah, serta pangkal penting kemelekatan serta dukkha.

Dukkha timbul kala kita memimpikan( Pali: ta?ha) serta menempel pada kejadian yang berganti ini. Kemelekatan serta hasrat kemauan menciptakan karma, yang mengikat kita pada samsara, daur kematian serta kelahiran kembali.

Kemauan melingkupi kama- tanha, kemauan hendak kenikmatan indria; bhava- tanha, kemauan buat meneruskan daur kehidupan serta kematian, tercantum kelahiran kembali; serta vibhava- tanha, kemauan buat tidak hadapi bumi serta perasaan menyakitkan.

Dukkha sirna, ataupun bisa dibatasi, kala hasrat kemauan serta kemelekatan menyudahi ataupun dibatasi. Ini pula berarti kalau tidak terdapat lagi karma yang diperoleh, serta kelahiran kembali selesai. Berhentinya merupakan nirwana,” berhembus pergi”, serta ketenangan benak.

Dengan menjajaki jalur Buddhis mengarah moksa, pembebasan, seorang mulai membebaskan diri dari kemauan serta kemelekatan pada situasi serta keadaan yang tidak abadi. Sebutan” jalur” umumnya dimaksud selaku Jalur Agung Berunsur 8, namun tipe lain dari” jalur” pula bisa ditemui dalam Nikaya. Adat- istiadat Theravada menyangka pengetahuan mengenai 4 bukti selaku perihal yang melepaskan.

Siklus kelahiran kembali

Sa?sara berarti” mengembara” ataupun” bumi”, dengan konotasi pergantian siklik serta berpusar. Ini merujuk pada filosofi kelahiran kembali serta” daur dari seluruh kehidupan, modul, kehadiran”, anggapan elementer agama Buddha, semacam perihalnya seluruh agama besar India.

Samsara dalam Buddhisme dikira selaku dukkha, tidak melegakan serta menyakitkan, diabadikan oleh kemauan serta avidya( ketidaktahuan), serta dampak karma. Filosofi kelahiran kembali, serta alam tempat kelahiran kembali ini bisa terjalin, dibesarkan dengan cara besar dalam Buddhisme, spesialnya Buddhisme Tibet dengan ajaran cakra keberadaannya( Bhavacakra). Pembebasan dari daur kehidupan ini, nirwana, sudah jadi alas serta pembenaran historis terutama dari agama Buddha.

Bacaan Buddhis berikutnya menerangkan kalau kelahiran kembali bisa terjalin di 6 alam kehidupan, ialah 3 alam bagus( surgawi, separuh dewa, orang) serta 3 alam kejam( binatang, makhluk halus kelaparan, neraka). Samsara selesai bila seorang menggapai nirwana,” meniup” kemauan serta mendapatkan pengetahuan asli ke dalam ketidakkekalan serta kenyataan non- diri.

Kelahiran kembali merujuk pada cara di mana insan menempuh serangkaian era kehidupan selaku salah satu dari banyak mungkin wujud kehidupan yang berkesadaran, tiap- tiap berjalan dari fertilisasi sampai kematian.

Dalam pandangan Buddhis, kelahiran kembali ini tidak mengaitkan jiwa apapun, sebab doktrinnya mengenai anatta( Sanskerta: anatman, ajaran tanpa- diri) yang menyangkal konsep- konsep mengenai diri yang abadi ataupun jiwa yang tidak berganti serta kekal, begitu juga disebutnya dalam agama Hindu serta Kristen. Bagi Buddhisme, pada kesimpulannya tidak terdapat yang namanya diri dalam insan apa juga ataupun akar apa juga dalam perihal apa juga

Adat- istiadat Buddhis dengan cara konvensional tidak sepakat mengenai apa itu dalam diri seorang yang terlahir kembali, dan seberapa kilat kelahiran kembali terjalin sehabis tiap kematian.

Sebagian adat- istiadat Buddhis melaporkan kalau ajaran” tanpa diri” berarti kalau tidak terdapat diri yang kebinasaan, namun terdapat diri avacya( yang tidak bisa dikatakan) yang beralih dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain.

Kebalikannya, kebanyakan adat- istiadat Buddhis melaporkan kalau vijñana( pemahaman seorang) walaupun bertumbuh, terdapat selaku suatu kontinum serta ialah dasar mekanistik dari apa yang hadapi kelahiran kembali, kelahiran kembali, serta kematian kembali. Kelahiran kembali tergantung pada pahalaatau kehilangan yang didapat oleh karma seorang, dan yang didapat atas julukan seorang oleh badan keluarga.

Tiap kelahiran kembali terjalin dalam salah satu dari 5 alam bagi Theravadin, ataupun 6 bagi gerakan lain- surgawi, separuh dewa, orang, binatang, makhluk halus kelaparan serta neraka.

Dalam Buddhisme Asia Timur serta Tibet, kelahiran kembali tidak mendadak, serta terdapat kondisi pancaroba(” bardo” dalam bahasa Tibet) antara satu kehidupan serta kehidupan selanjutnya.

Posisi kolot Theravada menyangkal pengharapan, serta menerangkan kalau kelahiran kembali sesuatu insan merupakan lekas. Tetapi terdapat bagian- bagian dalam Samyutta Nikaya dari Kanon Pali yang kelihatannya mensupport buah pikiran kalau Buddha mengarahkan mengenai langkah pancaroba antara satu kehidupan serta kehidupan selanjutnya.

Karma

Dalam Buddhisme, karma( dari bahasa Sanskerta:” aksi, kegiatan”) mendesak sa?sara- siklus beban serta kelahiran kembali yang tidak berakhir buat tiap insan. Aksi bagus, ahli( Pali: kusala) serta kurang baik, aksi tidak ahli( Pali: akusala) menciptakan” bibit” dalam media dasar siuman(alaya) yang matang setelah itu bagus dalam kehidupan ini ataupun dalam kelahiran kembali selanjutnya.

Kehadiran karma merupakan agama inti dalam agama Buddha, semacam perihalnya seluruh agama besar India, serta itu tidak mengisyaratkan fatalisme ataupun kalau seluruh suatu yang terjalin pada seorang diakibatkan oleh karma.

Baca Juga : Agama dan Pendidikan di Seluruh Dunia

Pandangan esensial dari filosofi karma Buddhis merupakan kalau hasrat( cetana) berarti serta berarti buat menciptakan akibat ataupun phala” buah” ataupun” hasil” vipaka.

Hendak namun, karma bagus ataupun kurang baik terhimpun apalagi bila tidak terdapat aksi raga, serta cuma mempunyai benak kurang baik ataupun benak bagus menghasilkan bibit karma; dengan begitu, aksi badan, perkataan ataupun benak seluruhnya membidik pada bibit karma.

Dalam adat- istiadat Buddhis, pandangan kehidupan yang dipengaruhi oleh hukum karma di era kemudian serta kelahiran dikala ini tercantum wujud kelahiran kembali, alam kelahiran kembali, kategori sosial, kepribadian, serta kondisi penting sama tua hidup. Ia bertugas semacam hukum fisika, tanpa campur tangan eksternal, pada tiap insan di 6 alam keberadaan tercantum orang serta dewa.

Pandangan berarti dari filosofi karma dalam Buddhisme merupakan memindahkan balasan. Seorang mengakulasi balasan tidak cuma lewat hasrat serta kehidupan benar, namun pula dapat memperoleh balasan dari orang lain dengan beralih benda serta pelayanan, semacam lewat anggaran( kebaikan pada biarawan ataupun biksuni). Lebih lanjut, seorang bisa mengirim karma bagusnya sendiri pada badan keluarga serta kakek moyang yang sedang hidup.

Liberation

Lenyapnya kleshas serta pendapatan nirwana( nibbana), yang dengannya daur kelahiran kembali selesai, sudah jadi tujuan penting serta soteriologis dari jalur Buddhis buat kehidupan monastik semenjak era Buddha.

Sebutan” jalur” umumnya dimaksud selaku Jalur Agung Berunsur 8, namun tipe lain dari” jalur” pula bisa ditemui dalam Nikaya. Dalam sebagian bagian dalam Kanon Pali, perbandingan terbuat antara wawasan ataupun pengetahuan betul( samma-ña?a), serta pembebasan ataupun pembebasan betul( samma- vimutti), selaku alat buat menggapai penghentian serta pembebasan.

Nirvana dengan cara literal berarti” meniup, mematikan, jadi mati”. Dalam teks- teks Buddhis dini, ini merupakan kondisi pengekangan serta pengaturan diri yang membidik pada” penghancuran” serta akhir dari daur beban yang terpaut dengan kelahiran kembali serta kematian kembali.

Banyak bacaan Buddhis setelah itu melukiskan nirwana sama dengan anatta dengan” kehampaan, kehabisan” yang komplit. Dalam sebagian bacaan, negeri dipaparkan dengan lebih perinci, semacam melampaui gapura kehampaan( sunyata)- menyadari kalau tidak terdapat jiwa ataupun diri dalam insan hidup mana juga, setelah itu melampaui gapura ketidakberartian( animitta)- menyadari kalau nirwana tidak bisa dialami, serta kesimpulannya melampaui gapura ketidakberdayaan( apranihita)- menyadari kalau nirwana merupakan kondisi apalagi tidak membutuhkan nirwana.

Kondisi nirwana sudah dipaparkan dalam teks- teks Buddhis beberapa dengan metode yang mendekati dengan agama- agama India yang lain, selaku kondisi pembebasan keseluruhan, pencerahan, keceriaan paling tinggi, keceriaan, kegagahan, independensi, kebakaan, kedatangan tanpa ketergantungan, tidak tersangka, serta tidak terlukiskan. Itu pula sudah dipaparkan beberapa dengan cara berlainan, selaku kondisi pembebasan kebatinan yang diisyarati dengan” kehampaan” serta realisasi non- diri.

Sedangkan Buddhisme menyangka pembebasan dari sa?sara selaku tujuan kebatinan paling tinggi, dalam aplikasi konvensional, fokus penting beberapa besar pemeluk Buddha biasa merupakan mencari serta mengakulasi balasan lewat aksi bagus, donasi pada biarawan serta bermacam ritual Buddha buat jadi lebih bagus. kelahiran kembali dari nirwana.

Dependent arising

Pratityasamutpada, pula diucap” kedatangan bergantungan, ataupun kedatangan bergantungan”, merupakan filosofi Buddhis yang menarangkan dasar serta ikatan bentuk, kehadiran, kehadiran, serta kenyataan paling tinggi.

Agama Buddha menerangkan kalau tidak terdapat yang berdiri sendiri, melainkan kondisi nirwana. Seluruh situasi raga serta psikologis tergantung pada serta timbul dari kondisi- kondisi yang telah terdapat tadinya, serta selaku gantinya dari kondisi- kondisi itu timbul kondisi- kondisi tergantung yang lain sedangkan mereka sirna.

Kedatangan bergantungan mempunyai pengkondisian kausal, serta dengan begitu Pratityasamutpada merupakan agama Buddhis kalau sebab- akibat merupakan dasar ontologi, bukan Tuhan inventor ataupun rancangan Veda ontologis yang diucap Diri umum( Brahman) ataupun prinsip inovatif transenden yang lain.

Hendak namun, pandangan Buddhis tidak menguasai sebab- akibat dalam sebutan mekanika Newton, melainkan beliau memahaminya selaku kedatangan terkondisi. Dalam Buddhisme, kedatangan bergantungan merujuk pada situasi yang dilahirkan oleh beberapa karena yang tentu berawal dari kejadian di dalam serta di sejauh era kehidupan, semacam karma dalam satu kehidupan yang menghasilkan situasi yang membidik pada kelahiran kembali di salah satu alam kehidupan buat kehidupan yang lain.

Anutan Buddha mempraktikkan filosofi kedatangan bergantungan buat menarangkan asal mula daur dukkha serta kelahiran kembali yang tidak berakhir, lewat 2 Simpati Nidana ataupun” 2 simpati mata kaitan”.

Ini melaporkan kalau sebab Avidya( ketidaktahuan) terdapat Sa?skaras( bentukan- bentukan karma) terdapat, sebab Sa?skaras terdapat hingga Vijñana( pemahaman) terdapat, serta dengan metode yang serupa beliau mengaitkan Namarupa( badan yang hidup), Sparsa( rangsangan sensorik),?a?ayatana( 6 indera), Vedana( perasaan), tanha( kemauan), upadana( menggenggam), Bhava( jadi), Asli( lahir), serta Jaramara?a( umur berumur, kematian, kesedihan, sakit).

Dengan memutuskan ikatan melingkar dari 2 Simpati Nidana, Buddhisme menerangkan kalau pembebasan dari daur kelahiran kembali serta dukkha yang tidak berakhir ini bisa digapai.

By gaykuesiac
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.