Membahas Tentang Kagyu Dalam Ajaran Buddha

Membahas Tentang Kagyu Dalam Ajaran Buddha – The Kagyu sekolah, pula diterjemahkan selaku, Kagyu, ataupun Kagyud, yang diterjemahkan jadi” Aluran Oral” ataupun” Bisik Transmisi” sekolah, ialah salah satu sekolah penting( chos lugs) dari Himalaya ataupun Buddhisme Tibet.

Membahas Tentang Kagyu Dalam Ajaran Buddha

kagyu-asia.com – Garis generasi Kagyu melacak diri mereka kembali ke era ke- 11 Mahasiddha India Naropa, Maitripa serta yogini Niguma, lewat anak didik mereka Marpa lotsawa( 1012–1097), yang bawa anutan mereka ke Tibet. Anak didik Marpa, Milarepa, pula seseorang penyair serta guru yang mempengaruhi.

Adat- istiadat Kagyu Tibet menimbulkan beberapa besar sub- aliran serta aluran bebas. Aluran penting Kagyu yang terdapat dikala ini selaku gerakan bebas merupakan gerakan yang berawal dari anak didik Milarepa, Gampopa( 1079–1153), seseorang biarawan yang mencampurkan gerakan Kagyu dengan adat- istiadat Kadam.

Baca Juga : Membahas lebih Jauh Tentang Apa Itu Karma Kagyu

Gerakan Kagyu yang bertahan selaku institusi bebas beberapa besar merupakan Karma Kagyu, Drikung Kagyu, Aluran Drukpa serta Taklung Kagyu. Sekolah Karma Kagyu merupakan yang terbanyak dari sub- sekolah, serta dipandu oleh Karmapa. Aluran anutan Kagyu yang lain, semacam Shangpa Kagyu, dilestarikan di sekolah lain. Anutan penting Kagyus tercantum Mahamudra serta 6 Dharma Naropa.

Nomenklatur, ortografi serta etimologi

Tegasnya, sebutan bka brgyud” aluran perkataan”,” transmisi sila” legal buat tiap rute transmisi anutan esoterik dari guru ke anak didik. Terdapat rujukan ke” Atiśa kagyu” buat Kadam ataupun” Jonang kagyu” buat Jonang serta” Ganden kagyu” buat ajaran Gelug. Hari ini, bagaimanapun, sebutan Kagyu nyaris senantiasa merujuk pada Dagpo Kagyu serta, lebih tidak sering, ke Shangpa Kagyu.

” Kagyu” serta” Kargyu”

Dalam artikelnya tahun 1970, Rosario Kencana dari sekolah Bka brgyud, E. Gene Smith mangulas 2 wujud julukan, Wylie: bka brgyud serta Wylie: dkar brgyud:

Suatu memo mengenai 2 wujud Dkar brgyud pa serta Bka brgyud pa merupakan berentetan. Sebutan Bka brgyud pa cuma legal buat tiap rute transmisi anutan esoterik dari guru ke anak didik. Kita bisa dengan pas berdialog mengenai Jo nang Bka brgyud pa ataupun Dge ldan Bka brgyud pa buat ajaran Jo nang pa serta Dge lugs pa. Para pengikut ajaran yang mengaplikasikan anutan yang berfokus di dekat Phyag rgya chen po serta obat Nā ro chos dengan cara pas diucap selaku Dwags po Bka brgyud pa sebab anutan ini seluruhnya dikirimkan lewat Sgam po pa. Anutan serta aplikasi seragam yang berfokus di dekat obat Ni gu choskhas dari Shangs pa Bka brgyud pa. Kedua adat- istiadat ini dengan cabang- cabangnya kerap salah diucap selaku Bka brgyud pa.

Sebagian kaum cerdik cendekia Tibet yang lebih berjaga- jaga menganjurkan supaya sebutan Dkar brgyud pa dipakai buat merujuk pada Dwags po Bka brgyud pa, Shangs pa Bka brgyud pa serta sebagian adat- istiadat kecil yang diturunkan oleh Nā ro pa, Mar pa, Mi la suku bangsa pa, ataupun Suku bangsa chung pa namun tidak melampaui Sgam po pa. Sebutan Dkar brgyud pa merujuk pada pemakaian busana khalwat katun putih oleh seluruh aluran ini.

Lingkungan inilah yang umumnya diketahui, dengan cara tidak pas, selaku Bka brgyud pa. Thuu kwan Blo bzang chos kyi nyi ma merumuskan perihal ini:” Dalam sebagian bacaan Brug pa setelah itu wujud tercatat Dkar brgyud memanglah timbul, sebab Mar pa, Mi la, Gling suku bangsa, serta yang lain cuma mengenakan kain katun putih. Tetapi begitu, tidak apa- apa bila[mereka] seluruh diucap Bka brgyud.” Atas anjuran Thuu kwan, hingga, kita hendak membela pada kesepakatan serta memakai sebutan” Bka brgyud.”

Satu pangkal membuktikan:

Sebutan” Kagyu” berawal dari frasa Tibet yang berarti” Generasi 4 Komisaris”( ka- bab- shii- gyu- pa). Garis generasi 4 kali bekuk ini merupakan:

  • badan khayalan serta konsentrasi pemindahan dari Guhyasamaja serta Chatushpitha Tantra, yang dikirimkan lewat Tilopa, Nagarjuna, Indrabhuti, serta Saraha;
  • bimbingan konsentrasi mimpi dari Mahamaya dari Tilopa, Charyapa, serta Kukuripa;
  • konsentrasi sinar bening dari Chakrasamvara, Hevajra, serta Tantra Bunda yang lain, begitu juga dikirimkan dari Hevajra, Dombipa, serta Lavapa; dan
  • konsentrasi panas dalam, Kamadevavajra, Padmavajra, Dakini, Kalpabhadra, serta Tilopa.

Asal

Kagyu diawali di Tibet dengan Marpa lotsawa( 1012–1097) seseorang perumah tangga Tibet yang dilatih selaku juru bahasa dengan lotawa Drogmi Shākya Yeshe( 993–1050), serta setelah itu melaksanakan ekspedisi 3 kali ke India serta 4 kali ke Nepal buat mencari anutan agama. Guru kuncinya merupakan para siddha Nāropa- dari siapa ia menyambut” aluran dekat” mahāmudrā serta anutan tantra, serta Maitrīpāda- dari siapa ia menyambut” aluran jauh” mahāmudrā. Bersama- sama Marpa, Milarepa serta Gampopa diketahui selaku” Mar- Mi- Dag Sum”( Wylie: mar mi dwags gsum) serta bersama- sama ketiganya dikira selaku penggagas gerakan Kagyu Buddhisme di Tibet.

Asal India

Guru Marpa Nāropa( 1016–1100) merupakan anak didik penting Tilopa( 988- 1089) dari Benggala Timur. Dari gurunya sendiri, Tilopa menyambut 4 Aluran Petunjuk( Wylie: bka babs bzhi), yang beliau bagikan pada Nāropa yang mengkodifikasikannya ke dalam apa yang setelah itu diketahui selaku 6 Anutan ataupun 6 Dharma Naropa. Instruksi ini terdiri dari campuran dari langkah penanganan( Skt. sampannakrama; Tib. rdzogs rim) aplikasi bermacam tantra konsentrasi paling tinggi Buddhis( Skt.

Anuttarayoga Tantra; Wylie: bla med rgyud), yang menggunakanenergi- angin( Skt. vāyu, Wylie: rlung), saluran- energi( Skt. aorta, Wylie: rtsa) serta tetes tenaga dari tubuh- vajra lembut buat menggapai 4 tipe keceriaan, benak jernih- cahaya serta mengetahui kondisi Mahāmudrā. Aluran Mahāmudrā dari Tilopa serta Nāropa diucap” aluran langsung” ataupun” aluran dekat” sebab dibilang kalau Tilopa menyambut realisasi Mahāmudrā ini dengan cara langsung dari Dharmakāya Buddha Vajradhara serta ini dikirimkan cuma lewat Nāropa ke Marpa.

” Generasi jauh” Mahāmudrā dibilang berawal dari Buddha dalam wujud Vajradara lewat inkarnasi Bodhisattva Avalokiteśvara serta Mañjuśr ke Saraha, setelah itu darinya lewat Nagarjuna, Shavaripa, serta Maitripada ke Marpa. Anutan Mahāmudrā dari Saraha yang Maitripa transmisikan ke Marpa tercantum” Akar Mahāmudrā”( Wylie: snying poi phyag chen) di mana Mahāmudrā dipublikasikan dengan cara langsung tanpa memercayakan penalaran filosofis ataupun aplikasi konsentrasi. Bagi sebagian memo, dalam perjalanannya yang ketiga ke India Marpa pula berjumpa dengan Atiśa( 982–1054) yang setelah itu tiba ke Tibet serta menolong menciptakan aluran Kadam

Marpa serta penerusnya( Marpa Kagyu)

Marpa mendirikan” tempat duduknya” di Drowolung( Wylie: gro bo lung) di Lhodrak di Tibet selatan pas di utara Bhutan. Marpa menikahi Lady Dagmema, serta mengutip 8 selir yang lain selaku mudra. Dengan cara beramai- ramai mereka menciptakan maharani penting serta 8 dakini kebijaksanaan dalam area Yidam- nya, Hevajra.

Marpa mau percayakan aluran transmisi pada putra sulungnya, Kebajikan Dode, menjajaki aplikasi Tibet yang lazim pada durasi itu buat memberikan aluran anutan esoterik lewat garis generasi( ayah- anak pria ataupun paman- keponakan), namun putranya tewas lebih dini. umur serta akhirnya beliau melampaui garis generasi kuncinya lewat Milarepa. Inkarnasi Kebajikan Dode selaku guru India Tiphupa jadi berarti untuk kemajuan Kagyu di Tibet di era depan. 4 anak didik Marpa yang sangat muncul diketahui selaku” 4 Tiang Agung”( Wylie: ka chen bzhi):

  1. Milarepa( 1040–1123), lahir di provinsi Gungthang di Tibet barat, pendeta Tibet yang sangat populer serta berprestasi, yang menggapai tujuan akhir pencerahan dalam satu era kehidupan jadi pemegang aluran khalwat ataupun aplikasi Marpa. Di antara banyak anak didik Milarepa merupakan Gampopa( 1079–1153), seseorang ahli besar, serta pendeta besar Rechung Dorje Drakpa( 1088–1158), pula diketahui selaku Rechungpa.
  2. Ngok Choku Dorje( Wylie: rngog chos sku rdo rje)( 1036–1102)- adalah akseptor penting uraian garis generasi Marpa serta spesialnya berarti dalam transmisi Hevajra Tantra oleh Marpa. Ngok Choku Dorje mendirikan kuil Langmalung di ngarai Tang di area Bumthang, Bhutan—yang berdiri saat ini. Agen Ngok dari Marpa Kagyu merupakan aluran bebas yang diteruskan oleh keturunannya paling tidak hingga dikala Drukchen Gyalwang Kunga Paljor Kedua( Wylie: brug chen kun dga dpal byor, 1428- 1476) yang menyambut transmisi ini, serta 1476 kala Go lotsawa menata Asal usul Biru.
  3. Tshurton Harum Dorje( Wylie: mtshur ston dbang gi rdo rje)-( ataupun Tshurton Wangdor) merupakan akseptor penting transmisi anutan Tantra Guhyasamāja dari Marpa. Aluran Tshurton kesimpulannya berasosiasi dengan adat- istiadat Asrama Shalu serta setelah itu mewariskannya pada penggagas Gelug Je Tsongkhapa, yang menulis pendapat ensiklopedis mengenai Tantra Guhyasamāja.
  4. Meton Tsonpo( Wylie: asrama ston tshon po)

Gampopa

Gampopa( 1079–1153), yang merupakan seseorang biarawan Kadampa, merupakan seseorang figur mempengaruhi dalam asal usul adat- istiadat Kagyu. Ia mencampurkan adat- istiadat monastik serta jenjang anutan jalur( Lamrim) dari ordo Kadam dengan anutan serta aplikasi Mahāmudrā serta 6 Konsentrasi Naropa yang ia dapat dari Milarepa yang menyatukannya jadi satu gerakan. Adat- istiadat monastik ini setelah itu diketahui selaku Dagpo Kagyu—garis generasi penting dari adat- istiadat Kagyu yang diturunkan lewat Naropa semacam yang kita tahu saat ini. Garis generasi penting yang lain dari Kagyu merupakan Shangpa Kagyu, diturunkan lewat Niguma.

Partisipasi penting Gampopa merupakan pembuatan selibat serta cenobitic monastikpesanan Kagyu. Perihal ini amat kontras dengan adat- istiadat Marpa serta Milarepa yang beberapa besar terdiri dari perumah tangga non- monastik ataupun pendeta pertapa yang belajar di tempat- tempat terasing ataupun pertapaan.

Baca Juga : Arti dari apa itu Agama Buddha

Bagi John Powers, Marpa” memandang kehidupan monastik cuma sesuai buat banyak orang dengan kapasitas terbatas.” Gampopa di bagian lain, mendirikan Asrama Daklha Gampo( Dwags lha sgam po) serta dengan begitu membolehkan anutan Kagyu buat mendirikan pusat penataran pembibitan serta kurikulum riset dalam pengaturan monastik tertata yang amat sesuai buat pelanggengan adat- istiadat.

Beberapa besar garis generasi Kagyu penting yang terdapat dikala ini bisa dilacak lewat Gampopa. Menjajaki anutan Gampopa, di situ bertumbuh apa yang diucap” 4 Utama serta 8 Kecil” garis generasi dari Dagpo( terkadang diterjemahkan” Tagpo” ataupun” Dakpo”) Sekolah Kagyu. Frasa ini melukiskan angkatan ataupun aturan di mana sekolah dibuat, bukan mengenai berartinya mereka.

Aluran Dagpo Kagyu

Aluran Dagpo Kagyu prinsip yang terdapat dikala ini selaku sekolah terorganisir merupakan Karma Kagyu, Drikung Kagyu serta Aluran Drukpa. Buat beberapa besar, anutan serta transmisi esoteris penting dari aluran Dagpo Kagyu yang lain sudah diserap ke dalam salah satu dari 3 gerakan bebas ini. Dengan cara historis, terdapat 2 simpati sub sekolah penting Dagpo Kagyu yang berawal dari Gampopa serta murid- muridnya. 4 agen penting berawal dari anak didik langsung Gampopa serta keponakannya; serta 8 agen inferior yang berawal dari anak didik Gampopa, Phagmo Drupa. Sebagian dari adat- istiadat Kagyu ini pada gilirannya meningkatkan agen ataupun sub- aliran mereka sendiri.

Terminologi” pokok serta secondary”( che chung) buat gerakan Kagyu cuma bisa ditelusuri kembali sepanjang tulisan- tulisan Kongtrul( era ke- 19). Terminologi Tibet” che chung”, dengan cara literal” besar( serta) kecil,” tidak memantulkan dimensi ataupun akibat sekolah, semacam misalnya sekolah Drikung pada era ke- 13 bisa jadi yang terbanyak serta sangat mempengaruhi dari mereka, walaupun bagi Kongtrul,” inferior”.

By gaykuesiac
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.