Review Jejak Buddha Dan Sejarah Lingkungan Asia

Review Jejak Buddha Dan Sejarah Lingkungan Asia – Buddhisme bertumbuh cepat di Asia dengan memanfaatkan alam serta meluhurkan kekayaan, bukan dengan mensupport suatu yang mendekati dengan sensibilitas area modern, bagi novel evokatif Johan Elverskog. pada tahun 707 Meter, seseorang administratur dari bangsa Tang Cina mencermati kalau:“ Pembangunan wihara Buddha yang ensiklopedis dicoba, serta rumah- rumah besar dibentuk.

Review Jejak Buddha Dan Sejarah Lingkungan Asia

kagyu-asia.com – Meski buat profesi semacam itu pohon- pohon ditebang hingga melucuti gunung, namun tidak memenuhi buat menyediakan seluruh batangan serta seluruh kolom yang diperlukan, jadi lebih banyak diimpor.

Walaupun tanah dipindahkan ke titik yang membatasi jalur, itu tidak lumayan buat penciptaan batu bata yang dibutuhkan buat bilik serta partisi.” Mengekstraksi kusen buat membuat biara- biara di zona yang besar; mendapatkan tanah buat batu bata serta materi gedung yang lain mengganti lanskap. Selaku bagian ekonomi yang besar serta kokoh, institusi Buddhis mendesak pergantian area rasio besar.

Ilustrasi dari Cina era medio ini melukiskan titik esensial dari novel evokatif Johan Elverskog The Buddhas Footprint: An environmental history of Asia, yang pula beliau merangkup dalam wujud tweet:“ Elverskog membalikkan deskripsi eko- Buddhisme dengan membuktikan gimana pemeluk Buddha di semua Asia mengganti area lewat komodifikasi, agro- ekspansi, serta urbanisasi”.

Baca Juga : Mengenal Agama Buddha Siddhartha Gautama

Deskripsi eko- Buddhisme merujuk pada buah pikiran yang terhambur besar, tetapi galat, kalau agama Buddha merupakan adat- istiadat pembebasan keduniawian yang mensupport suatu yang mendekati dengan sensibilitas area modern.

Berlawanan dengan pandangan terkenal eko- Buddhisme, Elverskog beranggapan kalau pemahaman ekologis serta proteksi alam tidak menempel pada adat- istiadat Buddhis.

Kebalikannya,“ perekonomian pro- pembangunan, ekspansionis, protokapitalis dari Buddhisme dini membutuhkan antitesis dari etos area, serta sedikit yang berganti kala Buddhisme menabur ke semua bumi”.

Didorong oleh agama yang membetulkan serta apalagi mendesak pemanfaatan alam, pemeluk Buddha lalu meluaskan“ batasan barang”, sebutan yang dipakai Elverskog buat merujuk pada cara yang mengekstraksi pangkal energi alam serta mengubahnya jadi barang buat mensupport Dharma.

Perluasan ekonomi bertabiat intrinsik

pada arsitektur totalitas sistem dalam tiap adat- istiadat Buddhis, Permasalahan dengan deskripsi eko- Buddhisme, Elverskog menarangkan, merupakan kalau beliau mendistorsi gagasan Buddhis serta melalaikan apa yang dicoba Buddhis.

Buat meluruskan, bagian awal dari novel ini menawarkan cerminan biasa penghilang dongeng mengenai anutan Buddha. Sehabis beresonansi dengan kategori orang dagang di India dini serta bertumbuh di bumi perdagangan perkotaan yang menghampar di semua Asia, Buddhisme tidak berfokus pada antipati serta anti- materialisme.

Si Buddha apalagi tidak menyarankan vegetarianisme; buah pikiran kalau biarawan wajib jadi vegetarian bertumbuh seribu tahun setelah itu di Tiongkok. Bagi Elverskog, Buddhisme merupakan” dogma kelimpahan” yang berfokus pada angkatan kekayaan.

Menciptakan duit merupakan bagian pokok dari jadi Buddhis. Menciptakan kekayaan menghasilkan karma positif; memakai kekayaan itu buat mensupport Dharma tingkatkan balasan.

Apalagi bila para biarawan meninggalkan bumi material serta menahan diri dari menewaskan binatang, mayoritas pemeluk Buddha tidak melaksanakannya.

Jadi, semacam yang ditunjukkan Elverskog:” Buat seluruhnya menghormati jejak adat- istiadat Buddhis- dan asal usul Buddhis Asia- kegiatan komunitas biasa butuh dibawa ke depan serta pusat analisa kita”.

Supaya agama Buddha berperan dengan bagus, pemeluk biasa wajib mensupport para biarawan. Praktek berikan itu menginginkan surplus ekonomi.

Kala sebagian di antara pemeluk biasa jadi banyak dengan ikut serta dalam upaya duniawi, kekayaan mereka mensupport monastik serta dengan begitu menciptakan pelayanan kebajikan.

“Oleh sebab itu, perluasan ekonomi ialah bagian dari arsitektur semua sistem dalam tiap adat- istiadat Buddhis– Nikaya, Mahayana, serta Tantra Buddhisme”. Tidak membingungkan, baginya, agama Buddha mengidealkan banyak orang yang

“mempunyai keahlian serta intelek bidang usaha buat mengganti kekayaan alam jadi kekayaan modul, yang pada gilirannya bisa diganti jadi modal karma serta adat”. Sebab kekayaan didapat lewat ekstraksi serta pemanfaatan alam, pemeluk Buddha merupakan daya penganjur dalam asal usul area Asia.

Penghargaan estetika alam dalam Buddhisme Asia Timur berawal dari kerinduan hendak area yang tidak tersendat yang sudah lama lenyap. Itu pula menginginkan kekayaan,” sebab, pada rentang waktu pra- modern, cuma mereka yang mempunyai alat yang bisa menghormati serta artistik alam”.

Penghargaan alam dalam Buddhisme Tiongkok serta Jepang kurang berhubungan dengan etos area serta lebih berhubungan dengan perawatan status. Selaku pelanggengan para elit, menulis syair alam, gambar panorama alam, serta aplikasi lain yang mengestetisisasi alam menguatkan perbandingan status dalam ekonomi perkotaan hierarkis yang dimonetisasi yang dipupuk oleh agama Buddha.

Bagian kedua dari novel ini mensurvei apa yang dicoba pemeluk Buddha, membuktikan kalau agama Buddha membuat serta menjaga sistem yang memanfaatkan area dan banyak orang di semua Asia.

Elverskog menyangkutkan pemanfaatan itu dengan jenjang akhlak Buddhisme:“ Filosofi kebajikan Buddhis melembagakan jenjang akhlak yang terstratifikasi dengan cara sosial

Akhirnya, adat- istiadat Buddhis melegitimasi jenjang sosial di mana golongan orang khusus, paling utama para biksu serta orang biasa yang banyak, terletak tidak cuma menang dengan cara karma namun pula dibenarkan dalam memanfaatkan mereka yang dengan cara karma lebih kecil”.

Di mana juga Dharma ditegakkan, pemeluk Buddha bawa pangkal energi lokal ke dalam jaringan perdagangan garis besar. Mereka menepikan warga adat dalam prosesnya.

Perhatian Buddhis kepada lingkungan

memantulkan akibat artikel area modern kepada agama Buddha serta bukan kebalikannya, Cerminan Elverskog mengenai gimana pemeluk Buddha mengganti area Asia sepatutnya menginspirasi pelacakan yang lebih mendalam.

Ayat yang sangat mencerahkan, bagi opini aku, mangulas kedudukan agama Buddha dalam perluasan pertanian. Tidak hanya mengiklankan penyebaran teknologi pengairan mutahir, pemeluk Buddha mengetuai dalam mengedarkan 4 tumbuhan– beras, gula, kapas, serta teh– yang“ mengganti asal usul area tidak cuma di Asia namun pula bumi”.

“ Alterasi Buddhis” ini, tulisnya,“ mempunyai banyak‘ akibat area yang memusnahkan alam’ semacam perihalnya penjangkitan tumbuhan serta penyakit” dalam alterasi Kolombia antara Afro- Eurasia serta Amerika yang tadinya.

Baca Juga : Keyakinan dan Agama di antara Orang Kulit Hitam Amerika

Agama Buddha bertumbuh cepat di kota- kota semacam Jiankang( saat ini Nanjing), yang pada era keenam mempunyai populasi lebih dari satu juta, dengan 20. 000 sampai 40. 000 biarawan Buddha serta 700 kuil Buddha.

Pusat kota besar semacam itu menuntut tidak cuma ekstraksi surplus pertanian buat berikan makan penghuninya,“ namun pula ekspansi jaringan orang dagang Buddhis yang membeli serta mengangkat barang yang membuat guna kota”.

Serupa berartinya, urbanisasi yang berjalan bersamaan dengan penyebaran agama Buddha pula menimbulkan keterasingan orang dari alam serta kebutaan kepada akibat area dari aksi orang. Pada dikala yang serupa, pemeluk Buddha mengganti serta memanfaatkan area lewat pembangunan vihara, candi, serta stupa mereka.

Dikala ini, semacam yang ditunjukkan oleh ahli sejarah Prasenjit Duara, agama Buddha membagikan gagasan untuk aksi yang dikeluarkan oleh komunitas lokal di Asia melawan demosi area.

Tetapi Elverskog merumuskan kalau atensi Buddhis kepada area terkini timbul belum lama ini. Pemahaman kontemporer, dalam pemikirannya,“ memantulkan akibat berhasil artikel area modern pada agama Buddha serta bukan kebalikannya”.

Pergantian radikal dalam ikatan antara pemeluk Buddha serta area yang sudah terjalin dalam sebagian dasawarsa terakhir, bersama dengan temuan” adat- istiadat” eco- Buddhis mempunyai asal usul yang sedang wajib ditulis.

By gaykuesiac
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.